PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI
DALAM PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN
Oleh: Dr. Muchlas, M.T.
Fenomena kompetisi yang semakin ketat dan tuntutan masyarakat yang semakin
dinamis, telah menjadikan peningkatan mutu sebagai spirit baru dalam
penyelenggaraan lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat dasar, menengah sampai
dengan perguruan tinggi. Peningkatan mutu ini akan dapat dilakukan secara
konsisten dan berkelanjutan di lingkungan lembaga pendidikan dasar dan menengah,
manakala kepala sekolah sebagai top leader memiliki komitmen yang tinggi dalam
membangun budaya mutu bagi pihak-pihak yang berkepentingan seperti pengelola,
guru, siswa dan orang tua peserta didik. Oleh karena aktivitas sekolah pada
umumnya mencakup domain manajemen dan pembelajaran, maka target mutu yang
dicanangkan juga harus meliputi kedua ranah tersebut. Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, dan khusus untuk sekolah-sekolah Muhammadiyah perlu
memperhatikan pula target-target yang telah ditetapkan oleh Majelis Pendidikan
Dasar dan Menengah dari tingkat pusat, wilayah sampai daerah.
Untuk mencapai target mutu dalam proses pembelajaran, perlu dilakukan
langkah-langkah strategis dengan menetapkan berbagai cara dan strategi serta
melibatkan semua resources yang tersedia termasuk teknologi infomasi.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat saat ini telah
mempengaruhi secara nyata perkembangan cara-cara yang digunakan dalam proses
pendidikan.
Dalam penelitan yang dilakukan oleh Widayanti, R. (2017) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis TI merupakan
cara penyebaran pengetahuan melalui media
komputer. Hal-hal yang perlu disiapkan adalah
a. Kesiapan Materi Pembelajaran
b. Kesiapan pendidik dan peserta didik
c. Kesiapan infrastruktur dan
pengelolaannya
Berikut disampaikan tabel beberapa rekomendasi ketiga hal diatas :
Tabel 3. Rekomendasi Persiapan Infrastruktur dan Pengeloaannya
Implementasi TI dalam
Pembelajaran Vokasi:
Penerapan TI dalam
pembelajaran vokasi sebagai berikut :
- Pembelajaran Jarak Jauh Contoh : Memanfaatkan LMS
dan video conference
- Pembelajaran Berbasis Proyek Contoh : Menggunakan
perangkat lunak spesifik industri
- Pelatihan Praktis Contoh : Simulasi virtual dan
Augmented Reality (AR)
KontenMultimedia
Pembelajaran dengan melibatkan multimedia selain dapat memenuhi kebutuhan semua
jenis gaya belajar, juga menawarkan strategi pemahaman konsep yang lebih baik
daripada belajar dengan cara tradisional.
PembelajaranFleksibel
Melalui pembelajaran ini, siswa dalam belajar tidak tergantung lagi pada tempat
dan waktu yang tetap, mereka dapat belajar kapanpun dan dimanapun mereka berada.
Melalui model pembelajaran ini, implementasi pendekatan project-based learning
menjadi lebih mudah karena saat ini telah tersedia berbagai aplikasi untuk
mendukung kerja kolaborasi secara online.
Teknik Evaluasi Diri
Saat ini telah banyak dikembangkan aplikasi baik yang bersifat dekstop maupun
online untuk mendukung dilakukannya evaluasi diri oleh para siswa. Berbeda
dengan tes manual yang diselenggarakan di dalam kelas, tes yang bersifat
real-time dan online ini telah menawarkan kemudahan bagi guru maupun siswa
dalam pelaksanaannya, selain itu tes ini juga dapat meningkatkan motivasi siswa
karena hasil evaluasi langsung dapat disajikan seketika.
Pendidikan dengan
Biaya Terjangkau
Aplikasi desktop diartikan sebagai program aplikasi komputer yang dapat
berjalan secara offline . Pada aplikasi ini, pengguna memasang program aplikasi
pada komputer/laptopnya sesuai dengan sistem operasi yang digunakannya. Karena
bersifat offline, semua file pendukung aplikasi berada pada komputer lokal,
sehingga aplikasi desktop dapat berjalan dengan kecepatan yang lebih tinggi
dibandingkan aplikasi web yang berjalan secara online. Namun, dengan
menggunakan aplikasi desktop pengguna tidak dapat menjalankannya pada kompter
lain karena aplikasi ini harus dipasang dulu programnya di komputer yang akan
digunakan untuk menjalankannya.
Kekurangan lain dari aplikasi desktop adalah setiap program yang dipasang pada
setiap komputer pada umumnya membutuhkan lisensi dari pabriknya, dan hal ini
memerlukan biaya. Selain itu, program-program aplikasi desktop pada umumnya
memerlukan dukungan perangkat keras dengan spesifikasi yang tinggi sehingga
memerlukan biaya yang lebih besar dibandingkan jika pengguna menggunakan
aplikasi berbasis web. Aplikasi desktop yang sangat populer dalam kehidupan
sehari-hari dapat kita temui pada program Microsoft Office, yang di dalamnya
terdapat aplikasi Power Point untuk presentasi guru di depan kelas, Excell
untuk membantu perhitungan-perhitungan seperti nilai oleh guru dan gaji pegawai
oleh bendahara sekolah. Selain itu, aplikasi desktop sebagai media pembelajaran
untuk berbagai mata pelajaran juga telah dapat kita temukan di berbagai toko
perangkat lunak, yang menyediakan fitur simulasi dan animasi yang menarik.
Berkebalikan dengan aplikasi desktop, aplikasi berbasis web merupakan program
komputer yang berjalan secara online, sehingga memerlukan koneksi internet yang
memadahi agar program dapat running well. Jika koneksi internet yang tersedia
tidak memadai, maka program aplikasi berbasis web ini akan berjalan sangat
lambat dan bahkan akan mengalami situasi hang-up, di mana program berhenti sama
sekali. Namun, program berbasis web ini memiliki keunggulan yakni dapat
dijalankan pada berbagai sistem operasi dan berbagai piranti dengan spesifikasi
yang tidak terlalu tinggi seperti komputer desk, laptop, tablet dan handphone .
Program berbasis web dapat diajalankan dari mana saja dan kapanpun diinginkan
karena programnya diletakkan di dalam server atau cloud yang dapat diakses oleh
komputer client dari seluruh dunia.
Penggunaan teknologi ini telah merambah ke hampir seluruh sektor kehidupan
manusia seperti bidang perbankan, perhotelan, pelayanan travel, hiburan, berita
dan berbagai aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, serta telah memberikan
pengaruhnya yang besar pada dunia pendidikan . Internet didefinisikan sebagai
jaringan global yang menghubungkan jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia
dengan menggunakan prosedur tertentu.
Aplikasi Browsing
Pada Jaringan Internet
Aplikasi browsing dinamakan juga world wide web atau sering disebut dengan web
saja yang merupakan implementasi teknologi hypermedia dalam jaringan internet .
Web dapat diartikan sebagai suatu sistem dokumen hypertext saling terhubung
yang diakses lewat internet.
Kegunaan Web Bagi
Pendidikan
Sebagai media komunikasi, web telah mampu berperan dalam menyediakan fasilitas
komunikasi seperti web mail, web page, mailing list, bulletin board, chat rooms,
audio teleconferencing maupun video teleconferencing.
Web juga mampu
berperan sebagai metodologi pembelajaran yang menyediakan fasilitas pendukung
kegiatan pendidikan seperti tutorial, hypermedia, latihan, simulasi, permainan,
tools, lingkungan belajar open-ended maupun evaluasi, sehingga dikenal istilah
web-based learning, web-based-laboratory, web-based training, web-based test
dan istilah-istilah lain yang menyebutkan web sebagai basis kegiatan pendidikan.
Uraian di atas telah menggambarkan bahwa web memiliki potensi yang sangat besar
dalam mendukung inovasi bidang pendidikan. Potensi tersebut muncul karena dalam
web tersemat teknologi delivery media yang menurut memiliki tiga karakteristik
yakni akses yang universal, mudah dalam penggunaan dan mampu menyediakan
content berupa data multimedia.
Pembelajaran On-Site
dan Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Web
Selain mampu menjadi pendukung kegiatan pembelajaran on-site dan jarak jauh,
web juga memliki peranan-peranan lain yang bermanfaat dalam dunia pendidikan.
Web menyediakan lingkungan interaktif untuk mendukung penyelenggaraan proses
pembelajaran, memiliki basis data yang besar sehingga dapat digunakan untuk
menyelenggarakan strategi pembelajaran inkuiri seperti Webquests, mendukung
implementasi course management system seperti Moodle dan Sakai, mendukung
aplikasi-aplikasi emerging seperti web logs atau blog, solusi masalah-masalah
pembelalajaran synchronous maupun asynchronous berbasis teknologi informasi,
tes online, dan sistem pendukung kinerja.
Karakteristik
Aplikasi Internet Untuk Pembelajaran
Setiap aplikasi memiliki karakteristik tersendiri dalam mendukung proses
pembelajaran.
Memperhatikan karakteristik seperti pada tabel 1 di atas, guru dapat memilih
aplikasi aplikasi yang sesuai sebagai media dalam pembelajaran. Misalnya,
sekolah mengadakan program pertukaran guru secara online dengan sekolah lain,
maka dapat dipilih aplikasi video conferencing.
Internet
didefinisikan sebagai jaringan global yang menghubungkan jaringan-jaringan
komputer di seluruh dunia dengan menggunakan prosedur tertentu
Aplikasi internet
dalam mendukung bidang pembelajaran dapat dipandang sebagai media, jaringan
atau tools dengan aplikasi seperti diilustrasikan pada gambar
Materi Strategi
Pembelajaran Pendidikan Vokasi
Dr. Muchlas, M.T.
Pembelajaran blended dapat menjadi alternatif implementasi pembelajaran dengan
tujuan mengurangi kelemahan-kelemahan pada pembelajaran ELearning yang bersifat
online.
a. Definisi Pembelajaran Blended
Pada awalnya, pembelajaran blended didefinisikan sebagai kombinasi berbagai
media penyampaian dan pada sisi lain didefinisikan pula sebagai kombinasi
berbagai metode dalam pembelajaran. Namun, kedua definisi tersebut menurut
pandangan Graham menimbulkan perdebatan antara pengertian media dan metode
dalam pembelajaran sehingga definisinya diubah menjadi kombinasi pembelajaran
tatap muka dengan pembelajaran dimediasi komputer. Sementara itu, Masson &
Rennie mendefinisikan pembelajaran blended sebagai gabungan antara pembelajaran
tatap muka dengan pembelajaran jarak jauh dan E-Learning. Dengan memperhatikan
berbagai definisi tersebut, dapat dikemukakan bahwa pembelajaran blended
merupakan kombinasi antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran
dimediasi komputer termasuk di dalamnya pembelajaran jarak jauh dan E-Learning.
Saat ini, pembelajaran blended banyak digunakan untuk memadukan pembelajaran
tatap muka dengan pembelajaran online.
Kata “blended” memiliki arti pembelajaran
konvensional (tatap muka di kelas) didukung oleh format pembelajaran
elektronik (Ghirardini, 2011). Seperti pada Gambar 3.1 menunjukkan bagaimana
posisi blended learning dibandingkan dengan face to face learning dan
independent learning.
Strategi blended learning bervariasi sesuai dengan disiplin, tingkat tahun,
karakteristik siswa dan hasil belajar, dan memiliki pendekatan yang berpusat
pada siswa dengan desain pembelajaran. Blended learning dapat meningkatkan
akses dan fleksibilitas untuk pelajar, meningkatkan tingkat pembelajaran aktif,
serta mencapai pengalaman dan hasil pembelajaran siswa yang lebih baik. Untuk
staf pengajar, blended learning dapat meningkatkan praktek pengajaran dan
manajemen kelas. Blended yang dimaksud dapat berupa hal- hal berikut:
a. tatap muka dan kegiatan pembelajaran online
b. kelas tatap muka konvensional dengan model yang berbeda, seperti akhir
pekan, intensif, eksternal, trimester
c. teknologi seperti kuliah capture, dan / atau dengan media sosial dan
teknologi
d. simulasi, kegiatan kelompok, pembelajaran berbasis web, practicals
(Saliba, Rankine, & Cortez, 2013)
Berdasarkan survey yang telah dilakukan oleh Oliver dkk., bahwa ada
beberapa aspek dalam blended learning, maka Tabel 3.1 akan mendeskripsikan
aspek – aspek utama dari blended learning. (Smythe, 2011).
Tabel Aspek – Aspek Blended Learning
Faktor siswa dan lembaga sangat berpengaruh dalam keberhasilan
blended learning. Dari sisi siswa, blended learning hanya akan bisa sukses
diterapkan jika pelajar memiliki pengetahuan yang cukup dalam bagaimana cara
menggunakan teknologi yang dikenalkan. Siswa harus dilatih untuk menelusuri
data dan informasi yang disediakan blended learning. Dari sisi lembaga, faktor
institusional yang pertama diperlukan untuk blended learning yang sukses adalah
alokasi layanan yang didedikasikan untuk mendukung dan membantu peserta
didik dan fasilitator di seluruh pengembangan dan penggunaan modul. Ini
termasuk pengeluaran sumber daya pada komunikasi untuk mendorong
instruktur dan calon pengguna akhir untuk menjadi aktif terlibat dan menyadari
sepenuhnya kegunaan blended learning
b. Alasan
Pemilihan Pembelajaran Blended
Graham, Allen, dan Ure menemukan sekurang-kurangnya tiga hal yang menjadi
alasan kuat penggunaan pembelajaran blended yakni mampu meningkatkan aspek
pedagogis, meningkatkan fleksibilitas pelaksanaan dan akses siswa terhadap
proses pembelajaran maupun sumber-sumber belajar, serta meningkatkan efisiensi
pembiayaan.
Peningkatan aspek pedagogis dari pemanfaatan pembelajaran blended dapat dilihat
dari kenyataan bahwa hampir sebagian besar pembelajaran tatap muka
diselenggarakan dengan strategi transmisi pengetahuan satu arah yang
menyebabkan pembelajaran berpusat hanya pada guru sehingga siswa menjadi kurang
aktif. Pada sisi lain terjadi hal sebaliknya, pembelajaran online mengarahkan
siswa belajar berbagai materi yang sangat padat secara mandiri sehingga
kesulitan-kesulitan belajar yang dihadapi tidak segera dapat memperoleh
penyelesaiannya.
Pembelajaran blended mendekatkan dua keadaan yang ekstrim tersebut dalam sebuah
pembelajaran yang menggabungkan kegiatan tatap muka dengan online.
c. Level Pembelajaran Blended
Graham menjelaskan masing-masing level pada pembelajaran blended sebagai
berikut.
Pada level aktivitas, pembelajaran blended dilakukan dengan memadukan aktivitas
tatap muka dan elemen-elemen termediasi komputer saja oleh guru. Contoh-contoh
aktivitas yang termasuk ke dalam pembelajaran level ini adalah tatap muka yang
digabung dengan simulasi menggunakan komputer dalam membahas sebuah materi
pelajaran, atau tatap muka dengan memanfaatkan teknologi informasi dan
komunikasi untuk menghadirkan para ahli dari jarak jauh ke dalam ruangan kelas.
Level pembelajaran blended yang lebih tinggi dari aktivitas adalah level
pelajaran.
Level ini merupakan gabungan antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran
lain yang dimediasi komputer. Contoh pembelajaran blended level ini adalah
penyelenggaraan pembelajaran tatap muka di suatu ruang yang digabungkan dengan
pembelajaran jarak jauh melalui mediasi komputer atau teknologi informasi dan
komunikasi sehingga dapat diikuti oleh siswa-siswa dari tempat lain yang
berjauhan. Dalam hal ini aktivitas tatap muka dan aktivitas dimediasi komputer
masing-masing merupakan bagian dari strategi terpisah yang digabungkan dalam
suatu pembelajaran blended.
Pembelajaran blended pada level program merupakan pembelajaran blended yang
ditawarkan oleh sebuah program pembelajaran. Strategi blended di perguruan
tinggi umumnya menggunakan level ini yakni dengan menawarkan kepada mahasiswa
dua jenis pilihan aktivitas tatap muka dan online atau tatap muka dan aktivitas
dimediasi komputer lainnya yang ditentukan oleh program.
d.
Kategori Pembelajaran Blended
Pembelajaran blended
dapat
dikategorikan ke dalam empat jenis yakni enabling, enhancing,
dan
transforming
seperti
dijelaskan berikut ini (Graham, 2006: 10-12) .
Enabling
adalah
pembelajaran blended
yang
ditujukan untuk peningkatan akses dan kenyamanan siswa
dalam mengikuti suatu pembelajaran. Contoh jenis pembelajaran ini adalah pembelajaran blended
untuk
peningkatan fleksibilitas bagi siswa atau pembelajaran blended yang ditujukan untuk
menyediakan peluang-peluang memperoleh lingkungan belajar yang sama untuk berbagai
strategi yang digunakan.
Sedangkan enhancing
merupakan
pembelajaran blended
yang
mengijinkan adanya perubahan-perubahan
pada aspek pedagogi tetapi tidak secara radikal dalam mengubah cara mengajar dan belajar yang terjadi.
Contoh pembelajaran ini adalah pembelajaran tatap muka yang dilengkapi
dengan sumber-sumber belajar online.
Transforming
merupakan
pembelajaran blended
yang
mengijinkan dilakukannya transformasi
pedagogi secara radikal. Contoh pembelajaran ini adalah model pembelajaran berbasis masalah yang
merupakan gabungan dari aktivitas tatap muka dengan berbagai aktivitas dimediasi
komputer yang mengarahkan siswa untuk aktif mengkonstruksi pengetahuan melalui
interaksi secara dinamis.
Menurut (Carman, 2020), untuk melaksanakan model pembelajaran blended learning memakai 5 kunci utama, yaitu:
1. Live Event, pembelajaran tatap muka secara sinkronous di berbagai waktu dan tempat yang sama ataupun waktu sama tapi tempat berbeda;
2. Self-Paced Learning, mengkombinasikan dengan pembelajaran mandiri (self-paced learning) yang memudahkan peserta didik belajar dimanapun dan kapanpun secara online;
3. Collaboration, mengkombinasikan kolaborasi, baik pengajar dengan peserta didik, maupun antar peserta didik;
4. Assessment, pengajar mampu merancang dan mengkombinasikan jenis assessmen online dan offline baik dalam bentuk tes maupun non-tes;
5. Performance Support Materials, bahan belajar disajikan bentuk digital, dapat diakses secara offline maupun online oleh peserta didik;
Suatu pembelajaran berbentuk blended atau hybrid bisa disebut pada saat komposisi pembelajaran online yang menggunakan media e-learning berkisaran 30-79% dikombinasikan dengan tatap muka (face to face learning) seperti gambar berikut:
Gambar 3 Persentase Blended Learning (Allen, IE, Seamen, J, & R, 2007)
Teaching model dan proses pembelajaran dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 4. Teaching Model and Process Blended Learning
Menurut Brooke (2015), terdapat empat model yang umumnya diimplementasikan dalam pembelajaran blended learning meliputi Rotation model, Flex model, A La Carte model, dan Enriched Virtual model.
1. Model Rotasi (Rotation Model)
Model ini membagi waktu belajar menjadi beberapa sesi, di mana siswa berputar mengikuti berbagai aktivitas pembelajaran tatap muka dan online. Aktivitasnya bisa beragam, seperti:
Sesi tatap muka: Digunakan untuk diskusi, praktikum, atau kegiatan yang membutuhkan interaksi langsung.
Sesi online: Digunakan untuk mengakses materi pembelajaran, mengerjakan tugas, atau mengikuti diskusi virtual.
Gambar 6. Lab Rotation Model
2. Model Fleksibel (Flex Model)
Model ini memberikan siswa lebih banyak fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat belajar. Siswa dapat mengikuti kelas tatap muka atau online sesuai kebutuhannya.
Gambar 7. Station Rotation Model
3. Model A La Carte (A La Carte Model)Model ini memungkinkan siswa untuk memilih sendiri komponen pembelajaran yang ingin mereka ikuti, baik online maupun offline. Siswa dapat memilih materi pembelajaran, aktivitas, dan penilaian yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajar mereka.Gambar 8. Model A La Carte (A La Carte Model)
4. Model Virtual Diperkaya (Enriched Virtual Model)Model ini menggunakan teknologi virtual untuk meningkatkan pembelajaran tatap muka. Teknologi virtual dapat digunakan untuk:a. Mensimulasikan peristiwa atau situasi yang sulit dipelajari di kelas.b. Memberikan pengalaman belajar yang interaktif dan menarik.c. Memungkinkan siswa untuk belajar dari mana saja dan kapan saja.
Gambar 9. Virtual Enrich Blended Learning Model
Link Youtube yang dapat diakses melalui link berikut : 1. https://www.youtube.com/live/90JXtSuPFjQ?feature=shared
2, https://www.youtube.com/live/iDGlE5iGa-M?feature=shared
3. https://www.youtube.com/live/urqLejyFmPU?feature=shared
4. https://www.youtube.com/live/UlPsnccmsuE?feature=shared
5. https://youtu.be/byK3z-nPwhE?feature=shared
DAFTAR PUSTAKA
Allen, IE, Seamen, J, &. G., & R. (2007). Blending in: The extent and promise of blended education in the United States. USA: The Sloan Consortium.
Alvendri, D., Giatman, M., & Ernawati, E. (2023).
Transformasi Pendidikan Kejuruan: Mengintegrasikan Teknologi IoT ke dalam
Kurikulum Masa Depan. Journal of Education Research, 4(2), 752–758.
Carman, J. M. (2002). Blended learning design: five key ingredients. Knowledgenet, 1-10. terakhir diunduh 30 September 2020 http://blended2010.pbworks.com/f/Carman.pdf Dalam C. J. Bonk & C. R. Graham (Eds.), The Handbook of Blended Learning: Global Perpectives, Local Designs (pp-3-21). San Francisco: John Wiley & Sons, Inc
Graham,
C. R. (2006 ). Blended learning systems: definition, current trends, and future directions.
Kadek Cahya Dewi, S.T., M. C., Putu Indah Ciptayani,
S.Kom., M. C., Prof. Herman Dwi Surjono, P. ., & Dr. Priyanto, M. K.
(2019). BLENDED LEARNING Konsep dan Implementasi pada Pendidikan Tinggi
Vokasi (1st ed.). SWASTA NULUS.
Mason, R. &
Rennie, F. (2006). Elearning:
The key concepts. New
York: Routledge
Saliba, G., Rankine, L., & Cortez, H. (2013). Fundamentals of blended learning.
University of Western Sydney
Foto Proses Asesmen Uji Kompetensi LSP
Uji Mutu Minyak Kemiri
Kegiatan Workshop Analisis data Qualitatif
Kampus 2A UAD, Sabtu, 22 Juni 2024
Komentar
Posting Komentar