Tugas Portofolio - 3
Teori dan Strategi
Pembelajaran Pendidikan
Teknologi dan Kejuruan
Dosen Pengampu: Prof.
Dr. Muchlas, M.T.
Program Studi
Pendidikan Guru Vokasi S2
Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan
Universitas
Ahmad Dahlan
TUGAS
PORTOFOLIO PRIBADI -3 ( 29 Maret 2024)
Penyusun : 2308049028_Sri
Mulyani
Setelah mengikuti kuliah ini saya mendapatkan pengetahuan
tentang :
Model
Pendidikan Vokasi/Kejuruan yang dilaksanakan di Inggris Raya sesungguhnya dapat menjadi salah
satu rujukan terbaik
untuk bisa dilak- sanakan di dalam sistem pendidikan
vokasi di Indonesia. Sebagai salah satu negara maju, Inggris Raya telah mengembangkan model pendidikan dan latihan
yang telah mengalami
berbagai penyesuaian dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Dengan
pengalaman panjang ini, Inggris Raya telah mampu bertahan dan tampil sebagai salah satu penyedia pendidikan
terbaik di dunia. Begitu banyak negara telah dan akan terus belajar ke
pusat-pusat pendidikan dan latihan di Inggris Raya ini, seolah ia menjadi
magnet yang senantiasa menarik setiap benda yang ada di sekelilingnya dan
kemudian berada di pusarannya. (Menurut Aprillyana Dwi Utami dkk, 2018, Sistem
Pendidikan Vokasi di Inggris, Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (2018) Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris. KBRI London:
London)
Kantor
Atdikbud Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London melihat pentingnya pemajanan informasi
tentang praktik-praktik terbaik pendidikan
vokasi di Inggris Raya ini dilakukan secara lengkap, terstruktur,
dan mudah diikuti.
Ciri-ciri ini memungkinkan pembaca memahami esensi pelaksanaan pendidikan
vokasi di Inggris Raya untuk kemudian menye
suaikannya dengan kondisi nyata di Indonesia, manakala praktik-praktik terbaik
itu akan dilaksanakan di lingkungannya. (Menurut Aprillyana Dwi Utami dkk,
2018, Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris, Kantor Atase Pendidikan dan
Kebudayaan (2018) Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris. KBRI London: London)
1.
Pendidikan kejuruan
bertujuan untuk menciptakan siswa yang kompeten di bidangnya. Siswa selepas
lulus diharapkan bisa bekerja di bidangnya, berwirasuaha ataupun melanjutkan
studi ke jenjang lebih lanjut ( alternatif tujuan utama).
2.
Siswa harus dibekali
dengan pengetahuan, ketrampilan dan sikap/atitude yang mencukupi.
Dengan mengacu taksonomi Bloom capaian kompetensi SMK berupa kompetensi
kogniitif, afektif dan psikootorik. Porsi kompetensi juga harus diselaraskan
dengan kisaran Siswa 20 % kognitif, 30%
afektif dan 50% psikomotorik.
3.
Siswa SMK juga wajib
melakukan PKL di industri dengan tujuan utama dapat belajar bekerja secara
nyata di industri, hal tersebut memberikan gambaran real pekerjaan mereka
nantinya setelah lulus. Melalui PKL siswa mendapatkan pengalaman baik kognitif
(kondisi real yang dipelajari cocok tidak dengan teoritisnya), psikomotorik (
siswa langung melakukan praktik pada lingkup pekerjaannya di industri dengan
bimbingan dan arahan dari pihak DUDIKA) dan jangn lupakan sikap/afektif siswa (
dapat melihat secara langsung bagaimana pekerja bersikap, bersosiasliasi,
berkomunikasi antar sesama sehinnga menjadi paham pentingan atitude).
Beberapa hal yang dapat
diperoleh dari buku diatas adalah :
1. Ikhtisar
Sistem Pendidikan di Inggris
Pemerintah Inggris
melalui Undang-Undang Pendidikan tahun 1996 memberlakukan program wajib belajar
untuk anak-anak usia lia sampai 16 tahun. Program wajib belajar ini unutk
jenjang dasar (primary school) dan jennajng pendidikan menengah ( secondary
school) tingkat awal. Jenjang
pendidikan di Inggris memiliki empat tahapan (lihat tabel 1).
Tabel 1. Sistem Pendidikan di Inggris
|
Usia |
Jenjang Pendidikan |
||
|
|
Further |
Higher |
Other Education (Contoh: Kursus
jarak jauh, pelatihan dari
pemerintah, pelatihan di tempat kerja) |
|
|
Education |
Education |
|
|
18+ |
|
PhD |
|
|
|
|
Master |
|
|
|
|
Undegraduate |
|
|
|
Further |
|
|
|
17 - 18 16 - 17 |
Education |
||
|
15 - 16 |
Secondary School |
||
|
14 - 15 |
|
||
|
13 -14 |
|
||
|
12 - 13 |
|
||
|
11 - 12 |
|
||
|
10 - 11 |
Primary School |
||
|
9 - 10 |
|
||
|
8 - 9 |
|
||
|
7 - 8 |
|
||
|
6 - 7 |
|
||
|
5 - 6 |
|
|
|
|
4 - 5 |
|||
|
< 5 |
Pre-School |
||
Pre-school atau pra dasar diikuti oleh
anak di bawah lima tahun. Pendidikan yang diajarkan hanya bermain, meliputi
bahasa dan komunikasi, perkembangan fisik, perkembangan pribadi, sosial dan emosional, literasi, matematika, pemahaman tentang dunia, seni dan rupa
(Gov.Uk, n.d(a)). Tidak ada penilaian dan gratis.
Pendidikan dasar (primary
school) untuk anak berusia 4-11 tahun berlangsung selama 7 tahun. Tahapan
pembelajaran (key stage) yaitu Key
Stage 1 dan 2, peserta didik belajar mate- matika, bahasa Inggris, sains,
desain dan teknologi, sejarah, geografi, keterampilan dan desain, musik, olahraga, dan komputer. Selain
itu, pada key stage 2 peserta didik
juga belajar bahasa
asing. Sekolah wajib menyelenggarakan mata pelajaran agama pada jenjang
ini.
Pendidikan
menengah (secondary school) untuk anak berusia 11-16 tahun dengan key
stage 3 dan 4. Setelah key stage-4 peserta didik akan mengambil ujian General Certificate of Secondary Education (GCSE). Setelah
ini peserta didik dapat memilih melanjutkan ke jenjang menengah atas, kejuruan,
magang, berkelanjutan atau langsung bekerja. Sedangkan pendikan tinggi diperuntukkan usia
18 tahun keatas meliputi jenjang S1, S2 ataupun S3.
Tipe sekolah beragam di Inggris antara lain, free school, voluntary-aid school, dan academy.
Hal ini untuk memberikan
kesempatan masyarakat berperan serta dalam pendidikan. Pada tipe academy, pemerintah memberikan kesempatan Perusahaan berperan serta dalam
kurikulum di sekolah.
2. Perkembangan Konsep dan
Implementasi Pendidikan Vokasi dan Sistem Sertifikasi di Inggris
Pemerintah Inggris merancang
sistem sertifikasi dan vokasi untuk pemenuhan tenaga ahli yang dibutuhkan oleh
industri. Sistem ini selalu diperbaharui kualifiaksinya sehingga mengikuti
kebutuhan industri. Pelajaran penting yang dapat diambil adalah kita perlu
mengadakan inisiasi program yang mendukung peningkatan
kecakapan/keahlian vokasional pada sektor formal dan informal, meningkatkan partisipasi perusahaan dan institusi
swasta pada lembaga pendidikan, pemerintah berkolaborasi dengan swasta
untuk menentukan standard kompetensi dan kualifikasi pengetahuan dan skills
bidang vokasi, dan pemerintah secara konsisiten meningkatkan kualitas
pendidikan vokasi dan mengevaluasi berkala.
3. Penjaminan Mutu Pendidikan
Vokasi di Inggris
Menurut (Bateman
et al., 2012) terdapat empat kunci proses dasar dalam penjaminan mutu untuk pendidikan dan pelatihan yaitu :
a.
Akreditasi Kualifikasi
b.
Pendaftaran Penyedia Pendidikan dan Pelatihan
c.
Pengawasan Sistem Penilaian dan Pemberian Kualifikasi
d.
Peraturan
Penerbitan Sertifikat
Fungsi
penjaminan mutu pendidikan melibatkan antara lain agen akreditasi, penyedia
layanan dan agen penyalur, lembaga kualifikasi dan badan pemberian penghargaan,
badan perizinan dan badan professional, penyedia akreditasi dan / atau pemberi penghargaan dan badan-badan kualitas
eksternal.
Magang merupakan pelatihan berbasis kerja di berbagai sektor untuk mempelajari berbagai
keterampilan baru dan mendapatkan
kualifikasi yang diakui
saat mereka bekerja. Pemagangan meliputi unsur kualifikasi
vokasional nasional, keterampilan utama, dan sertifikat teknis.
4. Green-TVET dan Higher-Order
Thinking (HOT) Skills
Pendidikan vokasi di Inggris memberlakukan kurikulum perpaduan kognitif,
skill dan attitude. Kebijakan yang diambil pemerintah Inggris tentang
pembaharuan energi, dampak karbon dan teknologi lingkungan yang terkait antara
lain green skills ( ketrampilan yang
dibutuhkan untuk menyesuaikan produk, layanan dan proses agar ramah lingkungan)
dan Program the Eco-Shools ( pengelolaan sampah,
limbah, energi, air, tanah, keanekaragaman hayati, kesehatan dan kebugaran, makanan dan lingkungan,
transportasi, serta kewarganegaraan global).
Higher-Order
Thinking (HOT)Skills merujuk pada ketrampilan berpikir kritis, kemampuan menyusun strategi dan pemecahan masalah. Pengajaran HOTS ini harus
teintegrsikan pada mata Pelajaran wajib dan dalam proses pembelajaran ( Melalui Kemampuan Bertanya (Questioning), literasi, Project-Based Learning.
Pendidikan vokasi harus mengembangkan kurikulum
gabungan keterampilan inti/dasar/wajib
akademik (core skills), keterampilan
vokasi (vocational skills) sesuai
spesialisasi yang diambil dan keterampilan kerja (employability skills) berupa keterampilan penunjang di dunia
kerja.
Pendidikan
vokasi harus melakukan reformasi kurikulum berkelanjutan, meningkatkan
kerjasama (partnership) antara
sekolah dan industri, mengintegrasikan keterampilan dan kecakapan hidup dalam panduan
kurikulum nasional dan pembelajaran, peningkatan
kompetensi guru pendidikan vokasi, dan Penambahan infrastuktur
berupa fasilitas pembelajaran untuk praktik kerja di sekolah menengah
kejuruan dan perbaikan sistem program magang di Perusahaan.
5. Transferable Skills
Pendidikan vokasi memerlukan keterampilan-keterampilan yang berguna dalam berbagai
jenis pekerjaan dan konteks kehidupan yang dinamakan transfer skills (UNESCO,
2012, hal. 14; Bridges, 1993; Bennett, 2002; Rich- ard, 2012). Di Inggris
penerapannya meliputi functional skills, core skills, Essential Skills Wales (ESW), Essential skills. Implementasi
pengintegrasian transferable
skills dalam kurikulum pen- didikan vokasi berkaitan erat dengan kualitas
pendidikan di suatu negara.
Di Indonesia sudah tertuang dalam pete revitalisasi pendidikan vokasi di Indonesia 2016-2030
(Kemen- dikbud, 2016), namun
dalam pelaksanaannya masih belum maksimal karean perbedaan kualitas pendidikan
vokasi antar wilayah dan ketersediaan guru produktif yang harus diperhatikan.
6. Pembelajaran dan Penilaian
Otentik dalam Pendidikan Vokasi
Pembelajaran
otentik beriorientasi pada aktivitas yang berbasih nyata. Menurut Reeves, Herrington, dan Oliver (2002) mengkaji 10 elemen pembelajaran
otentik yaitu:
a.
Relevansi
dengan dunia nyata
b.
Pendekatan multi-interpretasi
c.
Investigasi yang berkelanjutan
d.
Bahan pembelajaran dan cara pandang yang variative
e.
Kolaborasi
f.
Refleksi pembelajaran
g.
Cara pandang multidisipliner
h.
Penilaian
yang terintegrasi
i.
Pembelajaran berorientasi produk
j.
Pembelajaran menghasilkan
multiinterpretasi dan multi capaian
Proses pembelajaran diupayakan
dengan pembelajaran
berbasis aktivitas berdasarkan permasalahan
sehingga interaksi antar siswa sangat berperan. Penilaian dapat dilakukan oleh
guru dan antar siswa. Dengan demikian dapat mengevaluasi ketercapaian hasil
belajar siswa. Pembelajaran otentik memiliki tiga keunggulan ( Lombardi
(2007) yaitu :
a.
Siswa dilatih untuk menemukan keterkaitan
antara materi yang sedang mereka pelajari dengan materi sebelumnya dan dengan
pengalaman yang mereka alami
b.
Ilmu akan lebih mudah diingat jika
dipraktikkan
c.
Konteks lain dimana ilmu yang siswa
pelajari dapat diterapkan perlu dieksplorasi
Pembelajaran vokasi mengacu pada peningkatan kompetensi
siswa di bidangnya sebagai pemenuhan kebutuhan industri. Pembelajaran otentik
dengan praktik di laboratorium, ruang praktik ataupun industri sangat relevan
diterapkan untuk meningkatkan kompetensi siswa.
Pembelajaran vokasi
harus direncanakan secara terstruktur tanpa melupakan pentingnya mengembangkan
sikap berpikir kritis siswa. Penggunaan media pembelajran yang tepat juga akan
meningkatkan kualitas pembelajaran. Pemerintah dan Lembaga/industri terkait
hendaknya melakukan kerjasama/kolaborasi dengan sekolah untuk mencapai tujuan
kompetensi siswa.
7. Program Pembelajaran Sepanjang Hayat pada
Pendidikan Vokasi di Inggris
Program longlife learning sebagai salah satu hal yang dicanangkan
dalam revitalisasi pendidikan vokasi, sudah ditekankan sejak tahun 1998 oleh
Pemerintah Inggris. Prinsip ini mengacu kepada pemberian kesempatan pada setiap
individu
memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dalam pendidikan dan terus mengasah
serta mengembangkan keterampilan mereka untuk menghadapi tantangan perubahan zaman.
Kesempatan untuk belajar ilmu pengetahuan dan
ketrampilan terutama teknologi dan digital sangat terbuka untuk mengimbangi
perkembangn global.
Ketersediaan keterampilan tenaga
kerja (Skills supply) dan
keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja (Skills demand) harus dipastikan, atau bagaimana cara agar tidak terjadi ketimpangan antara kedua hal tersebut
(Skills mismatch). Keterampilan yang berbasis
pada pekerjaan seperti literasi,
numerasi, problem-solving dalam bidang teknologi dan digital
akan sangat dibutuhkan di masa sekarang dan yang akan datang.
Setiap individu di Inggris harus
memiliki 4Cs (Concern, Control, Curiosity
and Confidence) agar mereka bisa beradap- tasi sepanjang karir hidupnya.
Kesempatan untuk meningkatkan ketrampilan dan dunia kerja pada semua lapisan
masyarakat adalah program dari pemerintah untuk mencapai tujuan belajar
sepanjang hayat.
8. Integrasi TIK dalam Pendidikan
Vokasi Inggris
sistem
pendidikan vokasi Inggris mengintegrasikan TIK dalam pembelajaran menyebabkan peran pendidik
dan peserta didik sangat vital. Dengan adanya TIK, pendidik
diharapkan menjadi fasilitator dan kolaborator dalam proses belajar mengajar
sehingga peserta didik dapat berperan
lebih aktif. British Council
(2017) menekankan bahwa penggunaan TIK dalam pembelajaran
vokasi haruslah berinovasi dalam penyampaian materi
juga desain kurikulum, serta melibatkan para pemilik lapangan
pekerjaan yang mampu
memberikan pengalaman lebih bagi para peserta didik.
Berikut pemanfaatan TIK dalam pembelajaran yang didukung internet antara
lain Learning
platform, TIK sebagai Sistem Pengelolaan Informasi,
dan E-assessment. Sedangkan Integrasi TIK dalam Program Pendukung Sistem Pendidikan Vokasi
antara lain E-administrasi, parental
reporting, dan bimbingan karier (BK).
Perkembangan TIK terbaru dalam Pendidikan di Inggris meliputi Virtual Reality(VR), Augmented
Reality (AR) serta Internet of Things (IoT) juga
mulai memiliki peran dalam
pendidikan di Inggris.
Penerapan TIK pada pendidikan vokasi di Indonesia sudah diterapkan namun
hasilnya belum memuaskan karena terkendala sumber daya manusia yang belum
memadai dan juga keterbatasan sarana dan prasarana yang membutuhkan biaya cukup tinggi. Menurut (Yasak &
Alias, 2015), kendala yang dihadapi
dalam proses penerapan TIK dalam Pendidikan vokasi terletak pada pemilihan tipe
integrasi, desain materi dan domain pembelajaran apa yang menjadi target dari
program integrasi ini.
9. Bimbingan Karier dan Informasi
Lapangan Kerja
Kebijakan pemerintah Inggris dalam The Education Act 2011 menerapkan sekolah-sekolah di Inggris
bertanggungjawab untuk menyediakan
layanan bimbingan karier kepada setiap peserta
didik di kelas 9 sampai 11. Tahun berikutnya ditambah untuk kelas
8 dan usia 16-18 tahun. Sekolah harus menerapkan strategi untuk layanan tersbut
berupa :
a. Menginspirasi Peserta
Didik
b. Membangun Kerja Sama dengan Pengusaha
c. Memberikan Akses Terhadap Pilihan-pilihan Karier
d. Bimbingan Karier
Individual
Pelaksanaan tersebut akan
berhasil dengan baik jika sekolah bekerja sama dengan pemerintah daerah dengan
bentuk misalnya bekerja sama dengan National Careers
Service, bantuan finansial,
bekerja sama dengan Jobcentre Plus..
Pada
kenyataannya sekolah belum optimal dalam mengimplementasikan program layanan
karier ini. Sekolah banyak yang tidak tahu akses untuk mendukung program disediakan
pemerintah. Dukungan pimpinan dan stakeholder sekolah mutlak dibutuhkan untuk keberhasilan
layanan karier tersebut.
10. Akses dan Kesamaan dalam Pendidikan Vokasi
Pemerintah Inggris memberikan akses yang merata untuk masyarakatnya
sampai usia 18 tahun dan sampai 24 tahun untuk kaum diffable. Pendanaan
pendidikan vokasi juga melibatkan unsur
swasta atau perusahaan. Kebijakan
‘Uplift Advantage’ dan ‘STEM uplift’
yang diberikan kepada pihak
penyelanggara pelatihan untuk memastikan pen- didikan yang berkualitas dapat
diakses oleh semua pihak termasuk yang tinggal di daerah tertinggal ataupun
yang difabel juga yang mengambil program STEM yang membutuhkan dana lebih.
Indonesia harus mencontoh sistem
pendanaan di Inggris. Pendanaan di Indonesia yang bervariasi di berbagai daerah
karena berbagai faktor yang ada membutuhkan kebijakan pemerintah.
Pemahaman masyarakat tentang
pendidikan vokasi yang masih kurang pas karena dianggap pendidikan untuk masyarakat
atau anak kurang pandai dan ekonomi kurang. Anak-anak yang pandai lebih memilih
pendidikan sekolah umum karena dianggap akdemis. Untuk membenahi hal ini perlu peningkatan
kualitas dan kualifikasi pendidikan vokasi di Indonesia. Peran bimbingan karier
sangat diperlukan untuk meyakinkan peserta didik bahwa pendidikan vokasi
bukanlah jalur bagi yang kurang mampu atau ekonomi kurang, peserta didik
memilih tidak hanya berdasarkan minat dan bakat akademisnya saja.
Penyetaraan pendidikan umum dan
vokasi mutlak dilakukan dengan kerjasama antara sekolah, pemerintah, masyarakat
dan pihak industri ataupun swasta. Seandainya hal ini bisa terlaksana maka kebutuhan
tenaga kerja di industri akan dapat dipenuhi dari lulusan pendidikan vokasi
sehingga angka pengangguran menurun.
11. Inklusifitas Pendidikan Vokasi di Inggris
Pendidikan anak-anak atau individu berkebuthan khusus karena sebagai
penyandang disabilitas juga harus diperhatikan agar mereka dapat melangsungkan
kehidupannya secara mandiri. Sekoalh inklusif yang membekali mereka dengan
pelatihan dan pemagangan ke dunia kerja akan sangat membantu mereka dalam
meraih masa depannya. Beberapa program di Inggris bagi idnividu berkebutuhan
khusus antara lain pendidikan usia 16-19 tahun, supported Interships,
dan Guidance:
Employing Disabled People and People with Health Conditions (Department for
Work and Pensions, 2017). Peran pemerintah juga menentukan kebijakan bagi tenaga
kerja inklusif tersebut sehingga mereka tidak merasa di bedakan, kesempatan
mereka sama karena kompetensinya yang diperlukan. Pemerintah diharapkan juga
memberikan support peralatan bagi mereka yang membutuhkan sehingga dapat
bekerja dengan nyaman dan aman.
Beberapa hal terkait kebijakan untuk individu berkebutuhan khusus yang
harus diperhatikan antara lain pedoman lengkap dan menyeluruh bagi IBK, kerja sama antarkementerian dan daerah serta turunan pedoman yang praktis
dan aplikatif.
12. Konsep dan Implementasi Public Private
Partnership pada
Pendidikan Vokasi
Pemerintah mengelola pendidikan akan menghadapi dua hal yaitu memperluas
akses pendidikan dan peningkatan kualitas lulusan (LaRocque,
2008: p.6). pendidikan oleh pihak swasta berkembang lebih pesat karena
pengelolaan lebih leluasa dan hanya di kota dibandingkan dengan pendidikan oleh
pemerintah karena jangkauannya luas sampai ke pelosok. Kesenjangan terjadi juga
antara sekolah dengan industri dimana lulusan banyak yang tidak sesuai dengan
permintaan industri sehingga harus diselaraskan.
Program Kemitraan Pemerintah Swasta (Public Private Partnership, PPP) antara
pemerintah dan swasta diharapkan dapat memperbaiki kualitas pendidikan dan mengetahui keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia usaha (Gondinet & Gouchon, 2014: p.4).
Indonesia perlu mengimplementasikan PPP pada pendidikan vokasi di
Indonesia karena sumber dana dari pemerintah masih sangat terbatas untuk mendukung
infrastruktur yang dibutuhkan sekolah vokasi. Diharapkan kebutuhan kompetensi
di industri dapat terpenuhi dengan kerjasama ini karena industri mensupport
sekolah dalam pembelajaran. Program PPP ( dengan melibatkan dunia usaha dunia
industri) ini sudah tertuang dalam program revitalisasi pendidikan vokasi. Rekomendasi
untuk Indonesia untuk implementasi PPP antara lain:
a. Kerangka regulasi (PPP
harus memiliki landasan hukum yang kuat),
b. Pemisahan fungsi
di Otoritas pendidikan
,
c. Pengetahuan dalam Penyusunan Kontrak,
d. Pemilihan mitra secara transparan,
penjaminan mutu dan pemantauan,
e. Mekanisme pengukuran kinerja dan
f. Strategi
komunikasi
Daftar pustaka
Aprillyana Dwi Utami
dkk, 2018, Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris Edisi 1, Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (2018) Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris. KBRI London:
London
Arsilawita1 , Prof. Dr. H. Rusdinal, M.Pd2
, Prof. Dr. Azwar Ananda, M.A3 , Prof. Dr. Nurhizrah Gistituati, M.Ed4, 2021, Sistem
Pendidikan Inggris Menjawab Tantangan Revolusi Industri 4.0, Volume 5 Nomor 1
Sri Lestari (2018: 35), Pendidikan Vokasi di Inggris diakses pada 1 April 2024 https://123dok.com/article/pendidikan-vokasi-inggris-pendidikan-kejuruan-di-negara-maju.z3jo02my
BIODATA PENULIS
Nama : Sri
Mulyani, S.T.
Tempat/tanggal lahir : Sleman, 21
Juni 1974
Alamat :
Druju, Rt 01 RW 23 Margodadi Seyegan Sleman DIY
Unit Kerja : SMK
Negeri 2 Depok
Mata Pelajaran : Kimia
Industri
Pendidikan : S1
Teknik Kimia Universitas Diponegoro
Proses Magister Pendidikan Guru Vokasi UAD Yogyakarta
Pengalaman Kerja : Guru SMK
Negeri 1 Panjatan Tahun 2007 – 2023
Ketua Program Keahlian Kimia Industri SMK
Negeri 1 Panjatan
Tahun 2008 - 2023
Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum SMK
Negeri 1 Panjatan
Tahun 2023 – 2024
Guru SMK Negeri 2 Depok Sleman Tahun 2024 -
sekarang

Komentar
Posting Komentar