Tugas Portofolio - 3

Teori dan Strategi

Pembelajaran Pendidikan

Teknologi dan Kejuruan

 

Dosen Pengampu: Prof. Dr. Muchlas, M.T.

Program Studi Pendidikan Guru Vokasi S2

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Ahmad Dahlan

 

TUGAS PORTOFOLIO PRIBADI -3 ( 29 Maret 2024)

Penyusun : 2308049028_Sri Mulyani

Setelah mengikuti kuliah ini saya mendapatkan pengetahuan tentang :

Model Pendidikan Vokasi/Kejuruan yang dilaksanakan di Inggris Raya sesungguhnya dapat menjadi salah satu rujukan terbaik untuk bisa dilak- sanakan di dalam sistem pendidikan vokasi di Indonesia. Sebagai salah satu negara maju, Inggris Raya telah mengembangkan model pendidikan dan latihan yang telah mengalami berbagai penyesuaian dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Dengan pengalaman panjang ini, Inggris Raya telah mampu bertahan dan tampil sebagai salah satu penyedia pendidikan terbaik di dunia. Begitu banyak negara telah dan akan terus belajar ke pusat-pusat pendidikan dan latihan di Inggris Raya ini, seolah ia menjadi magnet yang senantiasa menarik setiap benda yang ada di sekelilingnya dan kemudian berada di pusarannya. (Menurut Aprillyana Dwi Utami dkk, 2018, Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris, Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (2018) Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris. KBRI London: London)

Kantor Atdikbud Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London melihat pentingnya pemajanan informasi tentang praktik-praktik terbaik pendidikan vokasi di Inggris Raya ini dilakukan secara lengkap, terstruktur, dan mudah diikuti. Ciri-ciri ini memungkinkan pembaca memahami esensi pelaksanaan pendidikan vokasi di Inggris Raya untuk kemudian menye suaikannya dengan kondisi nyata di Indonesia, manakala praktik-praktik terbaik itu akan dilaksanakan di lingkungannya. (Menurut Aprillyana Dwi Utami dkk, 2018, Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris, Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (2018) Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris. KBRI London: London)

1.     Pendidikan kejuruan bertujuan untuk menciptakan siswa yang kompeten di bidangnya. Siswa selepas lulus diharapkan bisa bekerja di bidangnya, berwirasuaha ataupun melanjutkan studi ke jenjang lebih lanjut ( alternatif tujuan utama).

2.     Siswa harus dibekali dengan pengetahuan,  ketrampilan dan sikap/atitude yang mencukupi.  Dengan mengacu taksonomi Bloom capaian kompetensi SMK berupa kompetensi kogniitif, afektif dan psikootorik. Porsi kompetensi juga harus diselaraskan dengan kisaran  Siswa 20 % kognitif, 30% afektif dan 50% psikomotorik.

3.     Siswa SMK juga wajib melakukan PKL di industri dengan tujuan utama dapat belajar bekerja secara nyata di industri, hal tersebut memberikan gambaran real pekerjaan mereka nantinya setelah lulus. Melalui PKL siswa mendapatkan pengalaman baik kognitif (kondisi real yang dipelajari cocok tidak dengan teoritisnya), psikomotorik ( siswa langung melakukan praktik pada lingkup pekerjaannya di industri dengan bimbingan dan arahan dari pihak DUDIKA) dan jangn lupakan sikap/afektif siswa ( dapat melihat secara langsung bagaimana pekerja bersikap, bersosiasliasi, berkomunikasi antar sesama sehinnga menjadi paham pentingan atitude).

Beberapa hal yang dapat diperoleh dari buku diatas adalah :

1.    Ikhtisar Sistem Pendidikan di Inggris

Pemerintah Inggris melalui Undang-Undang Pendidikan tahun 1996 memberlakukan program wajib belajar untuk anak-anak usia lia sampai 16 tahun. Program wajib belajar ini unutk jenjang dasar (primary school) dan jennajng pendidikan menengah ( secondary school) tingkat awal. Jenjang pendidikan di Inggris memiliki empat tahapan (lihat tabel 1).

 

Tabel 1. Sistem Pendidikan di Inggris

 

Usia

Jenjang Pendidikan

 

Further

Higher

Other Education

(Contoh: Kursus jarak jauh, pelatihan dari pemerintah, pelatihan di tempat kerja)

 

Education

Education

18+

 

PhD

 

 

Master

 

 

Undegraduate

 

Further

 

17 - 18

16 - 17

Education

15 - 16

Secondary School

14 - 15

 

13 -14

 

12 - 13

 

11 - 12

 

10 - 11

Primary School

9 - 10

 

8 - 9

 

7 - 8

 

6 - 7

 

5 - 6

 

 

4 - 5

< 5

Pre-School

 

Pre-school atau pra dasar diikuti oleh anak di bawah lima tahun. Pendidikan yang diajarkan hanya bermain, meliputi bahasa dan komunikasi, perkembangan fisik, perkembangan pribadi, sosial dan emosional, literasi, matematika, pemahaman tentang dunia, seni dan rupa (Gov.Uk, n.d(a)). Tidak ada penilaian dan gratis.

Pendidikan dasar (primary school) untuk anak berusia 4-11 tahun berlangsung selama 7 tahun. Tahapan pembelajaran (key stage) yaitu Key Stage 1 dan 2, peserta didik belajar mate- matika, bahasa Inggris, sains, desain dan teknologi, sejarah, geografi, keterampilan dan desain, musik, olahraga, dan komputer. Selain itu, pada key stage 2 peserta didik juga belajar bahasa asing. Sekolah wajib menyelenggarakan mata pelajaran agama pada jenjang ini.

Pendidikan menengah (secondary school) untuk anak berusia 11-16 tahun dengan key stage 3 dan 4. Setelah key stage-4 peserta didik akan mengambil ujian General Certificate of Secondary Education (GCSE). Setelah ini peserta didik dapat memilih melanjutkan ke jenjang menengah atas, kejuruan, magang, berkelanjutan atau langsung bekerja.  Sedangkan pendikan tinggi diperuntukkan usia 18 tahun keatas meliputi jenjang S1, S2 ataupun S3.

Tipe sekolah beragam di Inggris antara lain, free school, voluntary-aid school, dan academy. Hal ini untuk memberikan kesempatan masyarakat berperan serta dalam pendidikan. Pada tipe academy, pemerintah memberikan kesempatan Perusahaan berperan serta dalam kurikulum di sekolah.

2.     Perkembangan Konsep dan Implementasi Pendidikan Vokasi dan Sistem Sertifikasi di Inggris

Pemerintah Inggris merancang sistem sertifikasi dan vokasi untuk pemenuhan tenaga ahli yang dibutuhkan oleh industri. Sistem ini selalu diperbaharui kualifiaksinya sehingga mengikuti kebutuhan industri. Pelajaran penting yang dapat diambil adalah kita perlu mengadakan inisiasi program yang mendukung peningkatan kecakapan/keahlian vokasional pada sektor formal dan informal, meningkatkan partisipasi perusahaan dan institusi swasta pada lembaga pendidikan, pemerintah berkolaborasi dengan swasta untuk menentukan standard kompetensi dan kualifikasi pengetahuan dan skills bidang vokasi, dan pemerintah secara konsisiten meningkatkan kualitas pendidikan vokasi dan mengevaluasi berkala.

3.     Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi di Inggris

Menurut (Bateman et al., 2012) terdapat empat  kunci proses dasar dalam penjaminan mutu untuk pendidikan dan pelatihan yaitu :

a.      Akreditasi Kualifikasi

b.     Pendaftaran Penyedia Pendidikan dan Pelatihan

c.      Pengawasan Sistem Penilaian dan Pemberian Kualifikasi

d.     Peraturan Penerbitan Sertifikat

Fungsi penjaminan mutu pendidikan melibatkan antara lain agen akreditasi, penyedia layanan dan agen penyalur, lembaga kualifikasi dan badan pemberian penghargaan, badan perizinan dan badan professional, penyedia akreditasi dan / atau pemberi penghargaan dan badan-badan kualitas eksternal.

Magang merupakan pelatihan berbasis kerja di berbagai sektor untuk mempelajari berbagai keterampilan baru dan mendapatkan kualifikasi yang diakui saat mereka bekerja. Pemagangan meliputi unsur kualifikasi vokasional nasional, keterampilan utama, dan sertifikat teknis.

4.     Green-TVET dan Higher-Order Thinking (HOT) Skills

Pendidikan vokasi di Inggris memberlakukan kurikulum perpaduan kognitif, skill dan attitude. Kebijakan yang diambil pemerintah Inggris tentang pembaharuan energi, dampak karbon dan teknologi lingkungan yang terkait antara lain green skills  ( ketrampilan yang dibutuhkan untuk menyesuaikan produk, layanan dan proses agar ramah lingkungan) dan Program the Eco-Shools ( pengelolaan sampah, limbah, energi, air, tanah, keanekaragaman hayati, kesehatan dan kebugaran, makanan dan lingkungan, transportasi, serta kewarganegaraan global).

Higher-Order Thinking (HOT)Skills merujuk pada ketrampilan berpikir kritis, kemampuan menyusun strategi dan pemecahan masalah. Pengajaran HOTS ini harus teintegrsikan pada mata Pelajaran wajib dan dalam proses  pembelajaran ( Melalui Kemampuan Bertanya (Questioning), literasi, Project-Based Learning. Pendidikan vokasi harus mengembangkan kurikulum gabungan keterampilan inti/dasar/wajib akademik (core skills), keterampilan vokasi (vocational skills) sesuai spesialisasi yang diambil dan keterampilan kerja (employability skills) berupa keterampilan penunjang di dunia kerja.

Pendidikan vokasi harus melakukan reformasi kurikulum berkelanjutan, meningkatkan kerjasama (partnership) antara sekolah dan industri, mengintegrasikan keterampilan dan kecakapan hidup dalam panduan kurikulum nasional dan pembelajaran, peningkatan kompetensi guru pendidikan vokasi, dan Penambahan infrastuktur berupa fasilitas pembelajaran untuk praktik kerja di sekolah menengah kejuruan dan perbaikan sistem program magang di Perusahaan.

 

5.    Transferable Skills

Pendidikan vokasi memerlukan keterampilan-keterampilan yang berguna dalam berbagai jenis pekerjaan dan konteks kehidupan yang dinamakan transfer skills (UNESCO, 2012, hal. 14; Bridges, 1993; Bennett, 2002; Rich- ard, 2012). Di Inggris penerapannya meliputi functional skills, core skills, Essential Skills Wales (ESW), Essential skills. Implementasi pengintegrasian transferable skills dalam kurikulum pen- didikan vokasi berkaitan erat dengan kualitas pendidikan di suatu negara. Di Indonesia sudah tertuang dalam pete revitalisasi pendidikan vokasi di Indonesia 2016-2030 (Kemen- dikbud, 2016),  namun dalam pelaksanaannya masih belum maksimal karean perbedaan kualitas pendidikan vokasi antar wilayah dan ketersediaan guru produktif yang harus diperhatikan.

 

6.     Pembelajaran dan Penilaian Otentik dalam Pendidikan Vokasi

Pembelajaran otentik beriorientasi pada aktivitas yang berbasih nyata. Menurut Reeves, Herrington, dan Oliver (2002) mengkaji 10 elemen pembelajaran otentik yaitu:

a.      Relevansi dengan dunia nyata

b.     Pendekatan multi-interpretasi

c.      Investigasi yang berkelanjutan

d.     Bahan pembelajaran dan cara pandang yang variative

e.      Kolaborasi

f.      Refleksi pembelajaran

g.     Cara pandang multidisipliner

h.     Penilaian yang terintegrasi

i.       Pembelajaran berorientasi produk

j.       Pembelajaran menghasilkan multiinterpretasi dan multi capaian

Proses pembelajaran diupayakan dengan pembelajaran berbasis aktivitas berdasarkan permasalahan sehingga interaksi antar siswa sangat berperan. Penilaian dapat dilakukan oleh guru dan antar siswa. Dengan demikian dapat mengevaluasi ketercapaian hasil belajar siswa. Pembelajaran otentik memiliki tiga keunggulan ( Lombardi (2007) yaitu :

a.      Siswa dilatih untuk menemukan keterkaitan antara materi yang sedang mereka pelajari dengan materi sebelumnya dan dengan pengalaman yang mereka alami

b.     Ilmu akan lebih mudah diingat jika dipraktikkan

c.      Konteks lain dimana ilmu yang siswa pelajari dapat diterapkan perlu dieksplorasi

Pembelajaran vokasi mengacu pada peningkatan kompetensi siswa di bidangnya sebagai pemenuhan kebutuhan industri. Pembelajaran otentik dengan praktik di laboratorium, ruang praktik ataupun industri sangat relevan diterapkan untuk meningkatkan kompetensi siswa.

Pembelajaran vokasi harus direncanakan secara terstruktur tanpa melupakan pentingnya mengembangkan sikap berpikir kritis siswa. Penggunaan media pembelajran yang tepat juga akan meningkatkan kualitas pembelajaran. Pemerintah dan Lembaga/industri terkait hendaknya melakukan kerjasama/kolaborasi dengan sekolah untuk mencapai tujuan kompetensi siswa.

7.    Program Pembelajaran Sepanjang Hayat pada Pendidikan Vokasi di Inggris

Program longlife learning sebagai salah satu hal yang dicanangkan dalam revitalisasi pendidikan vokasi, sudah ditekankan sejak tahun 1998 oleh Pemerintah Inggris. Prinsip ini mengacu kepada pemberian kesempatan pada setiap individu memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dalam pendidikan dan terus mengasah serta mengembangkan keterampilan mereka untuk menghadapi tantangan perubahan zaman.  Kesempatan untuk belajar ilmu pengetahuan dan ketrampilan terutama teknologi dan digital sangat terbuka untuk mengimbangi perkembangn global.

Ketersediaan keterampilan tenaga kerja (Skills supply) dan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja (Skills demand) harus dipastikan, atau bagaimana cara agar tidak terjadi ketimpangan antara kedua hal tersebut (Skills mismatch). Keterampilan yang berbasis pada pekerjaan seperti literasi, numerasi, problem-solving dalam bidang teknologi dan digital akan sangat dibutuhkan di masa sekarang dan yang akan datang.

Setiap individu di Inggris harus memiliki 4Cs (Concern, Control, Curiosity and Confidence) agar mereka bisa beradap- tasi sepanjang karir hidupnya. Kesempatan untuk meningkatkan ketrampilan dan dunia kerja pada semua lapisan masyarakat adalah program dari pemerintah untuk mencapai tujuan belajar sepanjang hayat.

8.    Integrasi TIK dalam Pendidikan Vokasi Inggris

sistem pendidikan vokasi Inggris mengintegrasikan  TIK dalam pembelajaran menyebabkan  peran pendidik dan peserta didik sangat vital. Dengan adanya TIK, pendidik diharapkan menjadi fasilitator dan kolaborator dalam proses belajar mengajar sehingga peserta didik dapat berperan lebih aktif. British Council (2017) menekankan bahwa penggunaan TIK dalam pembelajaran vokasi haruslah berinovasi dalam penyampaian materi juga desain kurikulum, serta melibatkan para pemilik lapangan pekerjaan yang mampu memberikan pengalaman lebih bagi para peserta didik.

Berikut pemanfaatan TIK dalam pembelajaran yang didukung internet antara lain  Learning platform, TIK sebagai Sistem Pengelolaan Informasi, dan E-assessment. Sedangkan Integrasi TIK dalam Program Pendukung Sistem Pendidikan Vokasi antara lain E-administrasi, parental reporting, dan bimbingan karier (BK). Perkembangan TIK terbaru dalam Pendidikan di Inggris meliputi Virtual Reality(VR), Augmented Reality (AR) serta Internet of Things (IoT) juga mulai memiliki peran dalam pendidikan di Inggris.

Penerapan TIK pada pendidikan vokasi di Indonesia sudah diterapkan namun hasilnya belum memuaskan karena terkendala sumber daya manusia yang belum memadai dan juga keterbatasan sarana dan prasarana yang membutuhkan  biaya cukup tinggi. Menurut (Yasak & Alias, 2015),  kendala yang dihadapi dalam proses penerapan TIK dalam Pendidikan vokasi terletak pada pemilihan tipe integrasi, desain materi dan domain pembelajaran apa yang menjadi target dari program integrasi ini.

9.    Bimbingan Karier dan Informasi Lapangan Kerja

Kebijakan pemerintah Inggris dalam The Education Act 2011 menerapkan sekolah-sekolah di Inggris bertanggungjawab untuk menyediakan layanan bimbingan karier kepada setiap peserta didik di kelas 9 sampai 11. Tahun berikutnya ditambah untuk kelas 8 dan usia 16-18 tahun. Sekolah harus menerapkan strategi untuk layanan tersbut berupa :

a.      Menginspirasi Peserta Didik

b.     Membangun Kerja Sama dengan Pengusaha

c.      Memberikan Akses Terhadap Pilihan-pilihan Karier

d.     Bimbingan Karier Individual

Pelaksanaan tersebut akan berhasil dengan baik jika sekolah bekerja sama dengan pemerintah daerah dengan bentuk misalnya bekerja sama dengan National Careers Service, bantuan finansial, bekerja sama dengan Jobcentre Plus..

Pada kenyataannya sekolah belum optimal dalam mengimplementasikan program layanan karier ini. Sekolah banyak yang tidak tahu akses untuk mendukung program disediakan  pemerintah. Dukungan pimpinan dan stakeholder sekolah mutlak dibutuhkan untuk keberhasilan layanan karier tersebut.

 

10. Akses dan Kesamaan dalam Pendidikan Vokasi

Pemerintah Inggris memberikan akses yang merata untuk masyarakatnya sampai usia 18 tahun dan sampai 24 tahun untuk kaum diffable. Pendanaan pendidikan vokasi  juga melibatkan unsur swasta atau perusahaan. Kebijakan Uplift Advantage’ dan ‘STEM uplift’ yang diberikan kepada pihak penyelanggara pelatihan untuk memastikan pen- didikan yang berkualitas dapat diakses oleh semua pihak termasuk yang tinggal di daerah tertinggal ataupun yang difabel juga yang mengambil program STEM yang membutuhkan dana lebih.

Indonesia harus mencontoh sistem pendanaan di Inggris. Pendanaan di Indonesia yang bervariasi di berbagai daerah karena berbagai faktor yang ada membutuhkan kebijakan pemerintah.

Pemahaman masyarakat tentang pendidikan vokasi yang masih kurang pas karena dianggap pendidikan untuk masyarakat atau anak kurang pandai dan ekonomi kurang. Anak-anak yang pandai lebih memilih pendidikan sekolah umum karena dianggap akdemis.  Untuk membenahi hal ini perlu peningkatan kualitas dan kualifikasi pendidikan vokasi di Indonesia. Peran bimbingan karier sangat diperlukan untuk meyakinkan peserta didik bahwa pendidikan vokasi bukanlah jalur bagi yang kurang mampu atau ekonomi kurang, peserta didik memilih tidak hanya berdasarkan minat dan bakat akademisnya saja.

Penyetaraan pendidikan umum dan vokasi mutlak dilakukan dengan kerjasama antara sekolah, pemerintah, masyarakat dan pihak industri ataupun swasta. Seandainya hal ini bisa terlaksana maka kebutuhan tenaga kerja di industri akan dapat dipenuhi dari lulusan pendidikan vokasi sehingga angka pengangguran menurun.

 

11. Inklusifitas Pendidikan Vokasi di Inggris

Pendidikan anak-anak atau individu berkebuthan khusus karena sebagai penyandang disabilitas juga harus diperhatikan agar mereka dapat melangsungkan kehidupannya secara mandiri. Sekoalh inklusif yang membekali mereka dengan pelatihan dan pemagangan ke dunia kerja akan sangat membantu mereka dalam meraih masa depannya. Beberapa program di Inggris bagi idnividu berkebutuhan khusus antara lain pendidikan usia 16-19 tahun, supported Interships, dan Guidance: Employing Disabled People and People with Health Conditions (Department for Work and Pensions, 2017). Peran pemerintah juga menentukan kebijakan bagi tenaga kerja inklusif tersebut sehingga mereka tidak merasa di bedakan, kesempatan mereka sama karena kompetensinya yang diperlukan. Pemerintah diharapkan juga memberikan support peralatan bagi mereka yang membutuhkan sehingga dapat bekerja dengan nyaman dan aman.

Beberapa hal terkait kebijakan untuk individu berkebutuhan khusus yang harus diperhatikan antara lain pedoman lengkap dan menyeluruh bagi IBK, kerja sama antarkementerian dan daerah serta  turunan pedoman yang praktis dan aplikatif.

 

12. Konsep dan Implementasi Public Private Partnership pada Pendidikan Vokasi

Pemerintah mengelola pendidikan akan menghadapi dua hal yaitu memperluas akses pendidikan dan peningkatan kualitas lulusan (LaRocque, 2008: p.6). pendidikan oleh pihak swasta berkembang lebih pesat karena pengelolaan lebih leluasa dan hanya di kota dibandingkan dengan pendidikan oleh pemerintah karena jangkauannya luas sampai ke pelosok. Kesenjangan terjadi juga antara sekolah dengan industri dimana lulusan banyak yang tidak sesuai dengan permintaan industri sehingga harus diselaraskan.

Program Kemitraan Pemerintah Swasta (Public Private Partnership, PPP) antara pemerintah dan swasta diharapkan dapat memperbaiki kualitas pendidikan dan mengetahui keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia usaha (Gondinet & Gouchon, 2014: p.4).

Indonesia perlu mengimplementasikan PPP pada pendidikan vokasi di Indonesia karena sumber dana dari pemerintah masih sangat terbatas untuk mendukung infrastruktur yang dibutuhkan sekolah vokasi. Diharapkan kebutuhan kompetensi di industri dapat terpenuhi dengan kerjasama ini karena industri mensupport sekolah dalam pembelajaran. Program PPP ( dengan melibatkan dunia usaha dunia industri) ini sudah tertuang dalam program revitalisasi pendidikan vokasi. Rekomendasi untuk Indonesia untuk implementasi PPP antara lain:

a.      Kerangka regulasi (PPP harus memiliki landasan hukum yang kuat),

b.     Pemisahan fungsi di Otoritas pendidikan ,

c.      Pengetahuan dalam Penyusunan Kontrak,

d.     Pemilihan mitra secara transparan, penjaminan mutu dan pemantauan,

e.      Mekanisme pengukuran kinerja dan

f.      Strategi komunikasi


 

 

Daftar pustaka

Aprillyana Dwi Utami dkk, 2018, Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris Edisi 1, Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (2018) Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris. KBRI London: London

Arsilawita1 , Prof. Dr. H. Rusdinal, M.Pd2 , Prof. Dr. Azwar Ananda, M.A3 , Prof. Dr. Nurhizrah Gistituati, M.Ed4, 2021, Sistem Pendidikan Inggris Menjawab Tantangan Revolusi Industri 4.0, Volume 5 Nomor 1 

Sri Lestari (2018: 35), Pendidikan Vokasi di Inggris diakses pada 1 April 2024 https://123dok.com/article/pendidikan-vokasi-inggris-pendidikan-kejuruan-di-negara-maju.z3jo02my 

 


 

BIODATA PENULIS

 


Nama                          : Sri Mulyani, S.T.

Tempat/tanggal lahir : Sleman, 21 Juni 1974

Alamat                        : Druju, Rt 01 RW 23 Margodadi Seyegan Sleman DIY

Unit Kerja                   : SMK Negeri 2 Depok

Mata Pelajaran            : Kimia Industri

Pendidikan                  : S1 Teknik Kimia Universitas Diponegoro

                                      Proses Magister Pendidikan Guru Vokasi UAD Yogyakarta

Pengalaman Kerja      : Guru SMK Negeri 1 Panjatan Tahun 2007 – 2023

                                      Ketua Program Keahlian Kimia Industri SMK Negeri 1 Panjatan

  Tahun 2008 - 2023

  Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum SMK Negeri 1 Panjatan

  Tahun 2023 – 2024

  Guru SMK Negeri 2 Depok Sleman Tahun 2024 - sekarang

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Model Pembelajaran Pendidikan Vokasi Masa Depan