Portofolio pribadi tugas-2

 

Tugas mata kuliah         : Teori dan Strategi Pembelajaran Vokasi 

Dosen Pengampu           : Prof. Dr. Muchlas, M.T.

Program Studi Pendidikan Guru Vokasi S2

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Ahmad Dahlan

 

TUGAS PORTOFOLIO PRIBADI -2

Penyusun : 2308049028_Sri Mulyani

Setelah mengikuti kuliah ini saya memperoleh  berbagai pengetahuan antara lain :

 

NASKAH AKADEMIK PETA JALAN VOKASI

Pendahuluan

Masyarakat Indonesia tumbuh dalam dua karakter yaitu terbuka dan tradisi. Kondisi tersebut merupakan dua hal yang berlawanan, kondisi Masyarakat terbuka sangat dipengaruhi perkembangan teknologi sedangkan masyrakat tradisi masih mempertahankan budaya, adat istiadatnya serta kelokalannya. Pendidikan dituntut untuk senantiasa mengikuti perkembangan zaman dan bersifat terbuka.

Ada empat kekuatan besar yang berpengaruh terhadap perkembangan Masyarakat Indonesia di masa yang akan dating. Keempat hal tersebut adalah pertama dunia yang makin terintegrasi dengan perkembangan digital yang membuat kabur batas-batas geografi, geososial, geo ekonomi, geopolitik dan geokultural. Kedua konvergensi ilmu pengetahuan dan teknologi. Poliverasi dan demoktarisasi telah membuat ilmu pengetahuan dan teknologi semakin dekat sehingga menumbuhkan disiplin-disiplin ilmu baru. Ketiga laju inovasi dan teknologi desruptif  yang menimbulkan revolusi industri 4.0. Keempat  lanskap belajar yang makin terbuka tanpa batas, dimana inovasi dan teknologi pendidikan telah memberikan peluang pada semua orang untuk belajar secara demokratis-emansipatoris, personal, banyak pilihan dan layanan berkualitas.

Urbanisasi yang masif di Kawasan negara berkembang menjadi persoalan baru karena lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sebanding tenaga kerja yang datang akibat urbanisasi tesebut.

Persaingan tenaga kerja akibat sempitnya lapangan kerja menjadi sangat ketat. Sumber daya manusia yang berkompeten akan eksis sedangakan yang tidak kompeten akan menganggur jika mereka tidak malakukan wira usaha untuk melanjutkan kehidaupannya. Pendidikan vokasi menjadi peran sangat strategis untuk menciptakan tenaga kerja yang trampil, kompeten, serta professional sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

Revitalisasi Pendidikan vokasi terus dilakukan sejak repelita I hingga sekarang untuk memersiapkan sumber daya manusaia. Relevansi Pendidikan dengan industry, link and match, penyelarasan kurikulum dengan industry, PSG, pelatihan atau magang untuk guru, serta bentuk kerja sama pendidikan dengan industry terus digiatkan. Namun kesenjangan Pendidikan dengan dunia kerja masih menjadi masalah hingga sekarang. Dari hasil survey lulusan pendidikan bekerja di  di bawah kualifikasi pendidikannya. Hubungan  pendidikan vokasi dengan penyelenggara pemangku kepentingan industri belum harmonis sehingga perencanaan pendidikan vokasi belum selaras dengan perencanaan pembangunan ekonomi dan industri nasional, kebutuhan dudi dan perkembangan okupasi yang terjadi secara umum dalam struktur peran sosial.

Ketidakselarasan vertikal  yang tinggi mengakibatkan gejala inflasi pekerjaan. Hal ini dapat diatasi melalui pendidikan vokasi berkinerja tinggi dan dapat meningkatkan level kompetensi lulusannya sesuai dengan kebutuhan dudi. Pembangunan sumber daya manusia harus terkoodrdinasi, sinergis antar pemangku kepentingan, tepat sasaran dan efisien.

Peta jalan pendidikan vokasi dibuat untuk pemberi arah dan tujuan pendidikan vokasi dalam jangka waktu tertentu. Inpres no 9/2016 tentang Revitalisasi SMK menginstrukan terhadap 13 K/L dan pemerintah provinsi secara sinergis merevitasisasi SMK. Kemudian disusul Perpres No 68/2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi. Permenko No 6/ 2022 tentang Strategi Nasional Pendidikan Vokasi dan Pelatiahn Vokasi memberikan panduan untuk menciptakan ekosistem pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi yang efektif, efisien dan berkinerja tinggi.

Tantangan Pendidikan Vokasi

Publikasi yang dikeluarkan oleh McKinsey & company tahun 2019 tentang “Automation and The future of Work in Indonesian “ menyebutkan bahwa otomasi berpotensi meningkatkan produkativitas den pertumbuhan produk domestic bruto (PDB), serta menghasilkan pendapatan lebih tinggi bagi pekerja Indonesia dan peluang pasar untuk Perusahaan Indonesia. Pada tahun 2030 kemungkinan tenaga kerja manusia  akan tergantikan dengan otomasi.

Landskap pekerjaan di masa datang akan berubah secara cepat dan global. Tumbuhnya profesi dan pekerjaan baru di masa datang membutuhkan kompetensi-kompetensi keahlian yang baru pula. Berikut gambaran pekerjaan tahun 2030 di Indonesia .

Gambar 1. Otomasi dan masa depan pekerjaan di Indonesia tahun 2030

Beberapa jenis pekerjaan dan profesi yang dibutuhkan sejak sekarang hingga beberapa tahun ke depan menurut The Future  of Jobs Report 2020 adalah yang berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi dan otomasi. Jenis-jenis itu ditambilkan pada gambar di bwah ini .

Gambar 2. Jenis Pekerjaaan dan Ketrampilan baru yang muncul (WEF, 2020)

Transformasi Pendidikan Vokasi

Berdasarkan Perpres no 68/2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi  dan Pelatihan Vokasi, ada lima tujuan yang diinginkan yaitu :

  1. Meningkatkan akses mutu dan relevansi mutu pendidikan vokasi dengan kebutuhan DUDI.
  2. Meningkatkan link and match antara pendidikan vokasi dan DUDI.
  3. Mendorong Pembangunan yang spesifik pada Lembaga Pendidikan dan pelatihan vokasi sesuai potensi daerah sesuai kebutuhan dunia kerja.
  4. Meningkatkan akses dan kesempatan belajar bagi masyarakat pada pendidikan vokasi.
  5. Meningkatkan daya saing lulusan pendidikan vokasi di pasar kerja.

Untuk mengimplementasikan Perpres diatas dilakukan melalui proses dan strategi transformasi pendidikan yang dimulai dari  aspek filosofis-paradigmatis hingga tataran praktis. Ada beberapa transformasi yang dilakukan untuk mencapai hal diatas antara lain :

1.     Transformasi paradigmatik menuju pola pikir demand-driven YANG selaras dengan UNESCO tujuan utamanya untuk meningkatkan relevansi sistem pendidikan vokasi dan membekali SDM dengan keterampilan yang layak dan sesuai kebutuhan dunia kerja

2.     Transformasi pendidikan vokasi melalui penguatan sinergitas Pendidikan vokasi dengan pemangku kepentingan untuk menciptakan ekosistem Pendidikan yang berkinerja tinggi.

3.      Transformasi pendidikan vokasi melalui penguatan stok ekcakapan yang relevan dengan tren industri masa depan. Pendidikan vokasi harus tanggap terhadap tuntutan transisi digital dan hijau yang inklusif di tempat kerja, online dan lingkungen pembelajarannya.

4.     Transformasi pendidikan vokasi melalui penguatan pendidikan profesional dan kewirausahaan. Siswa lulusan pendidikan vokasi harus disiapkan menjadi job creator yakni inovator dan entrepreneur yang mampu merubah keunggulan alam dan budaya lokal menjadi keunggulan ekonomi dan daya saing yang menseh=jahterakan Masyarakat.

5.     Transformasi pendidikan vokasi ke pengembangan vokasi sebagai pembelajaran sepanjang hayat. Satuan pendidikan perlu memperluas layanan pendidikan untuk menjadi tempat pembelajaran sepanjang hayat yang fleksibel melalui reskilling dan upskilling. Sistem modular bersertifikat dengan kurikulum selaras industri perlu dikembangkan melalui layanan formal dan informal.

6.     Transformasi tata Kelola pendidikan vokasi menuju penciptaan isntitusi yang lebih  otonom. Otonomi diperlukan agar institusi cepat dan mandiri mengembangkan keunggulan dan keunikannya masing-masing sesuai dengan keragaman kebutuhan dunia kerja dan potensi SDA nya.


 

BAB II

PENDIDIKAN VOKASI SEBAGAI UJUNG TOMBAK

PENGEMBANGAN SDM

Filosofi  Pendidikan Vokasi dan Paradigma  Demand-Driven

Pendidikan vokasinya hendaknya dipogramkan tidak hanya menyiapkan lulusan namun juga membeikan pelatihan bagi pengangguran, peltihan untuk karyawan, pelatihan Masyarakat, pengembangan teaching factory, uji kompetensi dan sebgaianya yang mendukung untuk penyiapan tenaga kerja. Pendidikan vokasi juga menyiapkan peserta didiknya tidak hanya menjadi pencari kerja, namun harus disiapkan menjadi wirausahawan yang dapat mengembangkan karirnya.

Paradigma Pendidikan vokasi adlah Pendidikan sepanjang hayat akan memerlukan pembelajaran dan pengajaran dengan formulasi tri-gogy yaitu pedagogy, andragogy dan heutagogy. Ketiga pendekatan tersebut diterapkan secara selektif dengan memperhatikan karakteristik, tingkat kedewasaan, kemandirian dan kebutuhan  dari  peserta didik serta substansi dan tujuan pembelajaran. Pendekatan tersebut akan mampu menghasilkan peserta didik yang mandiri dan dewasa siap untuk menghadapi tantangan masa depannya.

Karakterristik filosofi pragmatisme meletakkan pendidikan sebagai interaksi aktif memandirikan peserta didik dalam belajar untuk memecahkan masalah. Selain pragmatism, filosofi esensial juga perlu diperhatikan sebagai tujuan pokok untuk pemenuhan tenaga kerja bagi pendidikan vokasi. Kurikulum dan pembelajaran dikembangkan berdasarkan kebutuhan bisnis dunia kerja dan industri.

Pendidikan vokasi merupakan investasi masa depan peserta didik. Masyarakat belum menyadari hal tersebut sehingga belum memperoleh manfaat yang maksimal dari Pendidikan vokasi.

Gambar 3. Segitiga Filosofi Pendidikan Vokasi

Sumber : Rojewski (2009)

Filosofi esensial di sebelah kiri sebagai paradigma pendidikan vokasi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Pembelajaran dan kurikulum berbasis standar kompetensi  diselaraskan dengan dunia kerja untuk dapat memenuhi kebutuhannya.

Filosofi pragmatis mencerminkan tujuan Pendidikan vokasi untuk memenuhi kebutuhan seluruh diri individu seseorang dan persiapan menjalani kehiduapannya. Permasalahan dalam kehidupannya dapat dipecahkan dengan kemampuannya  berdasarkan pengetahuan yang dipelajarinya.

Pragmatis rekonstruksi strand menyatakan bahwa tujuan pendidikan vokasi untuk melakukan transformasi masyarakat menuju masyarakat demokratis, membangun Masyarakat belajar, proaktif, tidak mengekalkan diri pada praktik dunia kerja saat ini.

Pendidik pendidikan vokasi harus berperan fungsi sebagai fasilitator dan mentor dalam menyiapkan sumber belajar dan perangkat pembelajaran yang kaya dan berkelas dunia. Paradigma baru mentiikberatkan peserta didik berperan untuk mengembangkan potensi dan  kreativitas dirinya dalam membentuk  manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, beraklhak mulia, cerdas,memiliki estetika, sehat jasmani dan Rohani serta ketrampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat, bangsa  dan negara.

 

Model Pembangunan Ekosistem Vokasi

Pendidikan vokasi di Indonesia cenderung dipengaruhi Teori Prosser, dimana pendidikan vokasi terpisah dengan pendidikan akademik. Teori Prosser berpengaruh kuat pada pendidikan vokasi dengan ciri sekolah kejuruan dan kampus vokasi mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi yang digali dari kompetensi industri.

Penggunaan standard kompetensi dari industri untuk pendidikan vokasi membutuhkan biaya yang tinggi karena standard pembelajaran inustri membutuhkan bahan dan peralatan yang berbasis industri tentu mahal. Pihak direktorat SMK  menata standar isi, stamdar sarpras, standard proses, standard penilaian, MoU, PKL dan magang guru semua mengacu replika industri. Pada pemulihan keadaan struktur kurikulum terdiri dari kelompok mata pelajaran umum dan kelompok mata pelajaran kejuruan.

 

Telaah Teoritik dan Empirik tentang Kompetensi Dunia Kerja

Pendidikan vokasi merupakan pendidikan untuk mengemabngkan ke-vokasi-an sehingga memiliki kapasitas dan kapabilitas ditugasi emlakukan pekerjaan atau job tetentu. Muara akhir pendidikan vokasi adalah pembentukan kompetensi Dimana peserta didik dilatih agar mampu confirm dengan skill, sikap, dan pengetahuan yang dibutuhkan dunia kerja. Pembelajaran pendidikan  vokasi secara bertahap diorientasikan dengan kerja “work-oriented learning” kemudian dihubungkan dengan tugas-tugas atau job kerja “work-connected learning” dan diintegrasikan dengan kerja “work-integrated learning”.

Teori Prosser ditentang oleh pendapat dari Dewey yang memiliki pandangan pendidikan demokratis yakni tujuan dasar pendidikan mempertemukan kebutuhan-kebutuhan setiap individu dengan pemenuhan pribadinya dan menyiapkan diir untuk bisa menjalani kehidupan yang sejahtera. Pendidikan vokasi menjadi kebutuhan semua peserta didik agar dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.

Kebijakan ketenagakerjaan suatu negara mencakup lima hal yaitu memberi peluang kerja untuk semua angkatan kerja termasuk kaum disabilitas, pekerjaan tersedia seimbang dan merata sepanjang waktu di semua wilayah, memberi penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidup di masyarakat, pendidikan dan latihan mampu mengembangkan potensi karir dan masa depan individu serta matching man and jobs dengan kerugian minimum, pendapatan tinggi dan produktif.  

Proses vokasionalisasi dibutuhkan untuk mewujudkan tujuan vokasi yang baik dengan tujuan utamanya meningkatkan relevansi pendidikan dan bimbingan  kejuruan dengan perkembangan kebutuhan dunia kerja agar terbentuk masyarakat sejahtera yang kompetetif dan beriorientasi pada Pembangunan. Adapun fungsi dasar pendidikan kejuruan antara lain melakukan transmisi kultur atau budaya, transmisi skill/kemampuan, transmisi nilai dan keyakinan, persiapan untuk hidup produktif, pemupukan interaksi kelompok dan pengembangan kearifan dan keunggulan global.

Pendidikan vokasi disisi lain menekankan untuk penyiapan bekerja dengan pengembangan ketrampilan/skill yang motoric sebagai perwujudan kinerja kinestetik. Pengenalan subyek-subyek praktis keduniakerjaan mencakup pengembangan kompetensi kejuruan, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, soft skiil, ketrampilan kerja, ketrampilan teknis, karir kejuruan, system penggajian, system kerja, keselamatan kerja, peratuan dan perundangan ketenagakerjaan dan lain-lain.

 

Telaah Belajar Sepanjang Hayat (long life leraning pathways) pada Pendidikan Vokasi

Perkembangan zaman yang sangat cepat dan masif membutuhkan budaya belajar dan habit belajar sepanjang hayat agar dapat mengikutinya. Ketrampilan diikuti pengetahun teknologi terkini serta komunikasi efektif menjadi hal wajib yang harus dikuasai peserta didik. 

Visi pendidikan vokasi diarahkan pada pengembangan pendidikan untuk semua, belajar sepanjang hayat, kesejajaran dan pemerataan kesejahteraan, pengentasan kemiskinan dan pengangguran. System Pendidikan vokasi direformasi dengan paradigma baru yaitu pendidikan lebih fleksibel, inovatif, produktif, memberi skills sesuai kebutuhan dunia kerja, pelatihan dn pelatihan kembali tenaga kerja.

Reformasi pendidikan untuk semua dan sepanjang hayat menyebabkan pendidikan vokasi yang sangat strategis. Manusia dalam pendidikan vokasi yang baru sebagai subjek yang memiliki tujuan dan kebutuhan hidup yang utuh dalam setiap permasalahnnya. Pendidikan vokasi harus mampu membentuk tenaga kerja terampil yang memiliki karakteristik personal yang paham dinamika psikosial dan kultural daerahnya.

 

Otonomi Satuan Pendidikan

Keberhasilan sistem pendidikan vokasi dapat diukur dari Tingkat pencapaiannya dalam membangun budaya masyarakat yang memiliki kapabilitas inquiry, discovery, desain, penciptaan, rekayasa secara kreatif produktif, dalam memenuhi kebutuhan hidup.


 

BAB III

PENDIDIKAN VOKASI SAAT INI

Perkembangan Akses Layanan Vokasi

Pendidikan Menengah Kejuruan

Perkembangan jumlah SMK saat ini mengalami kenaikan signifikan, akan tetapi belum diiringi kualitas yang bagus pada SMK tersebut. Ini dapat dilihat dari jumlah pengangguran terbanyak adalah lulusan SMK.

Pendidikan Tinggi Vokasi

Pendidikan tinggi vokasi juga mengalami penambahan jumlah yang signifikan. Perguruan tinggi meng-update kebutuhan industri yang harus disediakan.

Kursus dan Pelatihan

Lembaga kursus dan pelatihan mengalami penurunan yang cukup signifikan di beberapa tahun terakhir. Hal ini dikarenakan adanya tuntutan mendaftarkan lembaganya untuk tertib administrasi sebagai penajminan mutu LKP. Lembaga ini juga belum mendapat pengakuan secara formal seperti paket C sehingga mempengaruhi kuantitas peminatnya.

Kurikulum Pendidikan Vokasi

Kurikulum merupakan komponen sangat penting untuk kelangsungan pembelajaran. Kurikulum pendidikan vokasi harus diselaraskan dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh industri sehingga harus senantiasa mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan kurikulum SMK dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 4. Perubahan Kurikulum waktu pra pandemi, pandemi dan pemulihan

Kurikulum prototipe diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan Pendidikan untuk pemulihan pembelajaran 2020-2024  dengan karaktersistik anatara lain pembelajaran berbasis project untuk pengembangan soft skill dan karakter, fokus pada materi esensial sehingga cukup untuk mendalami kompetensi literasi dan numerasi, fleskibilitas bagi guru melakukan pembelajaran sesuai dengan kemampuan murid.

Kurikulum prototipe menggunakan 20-30% pembelajaran project untuk pengembangan karakter profil pelajar Pancasila. Hal ini dikarenakan pembelajaran berbasis project memberi kesempatan untuk belajar melalui pengalaman (experiment learning), mngintegrasikan kompetensi esensial yang dipelajari peserta didik dari berbagai disiplin ilmu, dan struktur belajar yang fleksibel.

Karakteristik dan penerapan kurikulum SMK antara lain dunia kerja dapt terlibat dalam pembelajaran, struktur lebih sederhana hanya maple umum dan kejuruan, PKL sebai mapel project dengan waktu 6 bulan, pelajar dapat memilih mapel yang lain diluar program keahliannya, alokasi waktu khusus P5 dan budaya kerja untuk peningkatan soft skills.

Pendidik dan Tenaga Kependidikan

SDM yang berkualitas akan sangat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran pendidikan vokasi. Program dari Direktorat Jendral Vokasi tahun 2021 untuk meningkatkan kualitas SDM dengan peningkatan pelatihan pendidik sesuai kompetensi yang dibutuhkan, peningkatan keterlibatan instrukstur/praktisi dari industri, dan peningkatan pemagangan guru di industri.

Kondisi saat ini belum seluruhnya SDM mendapatkan pelatihan bersertifkasi dari industri. Sehingga belum cukup menjamin lulusan yang kompeten.

 

Sarana dan Prasarana

Berdasarkan Permendikbud No 34 tahun 2018 tentang Standar Nasional Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan/MA Kejuruan mengamanatkan bahwa dalam rangka mewujudkan amanat tujuan pendidikan diperlukan sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung telaksananya kegiatan pembelajaran bermutu.

Penyediaan sarana dan prasarana SMK terkendala kurangnya biaya dari pemerintah pusat. Pemerintah Daerah diharapkan dapat memberikan bantuan untuk pemenuhan kebutuhan tersebut, sehingga pembelajaran dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

 

Keterlibatan Dunia Kerja

Praktisi/instruktur dari dunia kerja sangat diperlukan peran sertanya dalam menyelenggarakan pembelajaran di SMK. Kerja sama yang terjalin saat ini Sebagian besar pada kesempatan magang/PKL bagi siswa, sedangkan kebutuhan yang lain untuk mendukung ketercapaian proses pembelajarn berbasis industri masih sangat kurang antara lain penyelerasan kurikulum, bantuan peralatan, praktisi mengajar di sekolah, komitmen penyerapan lulusan dan join research antara industri dengan sekolah.

Tantangan selanjutnya bagaiamana melakukan transformasi pola kerja sama yang lebih efektif dan efisien antara pendidikan vokasi dengan dunia kerja sehingga implementasi tujuan Pendidikan vokasi terealisasikan dengan baik.

 

Kolaborasi Pemerintah dengan Pemerintah Daerah

Pemerintah daerah diharapkan dapat berperan aktif untuk mendorong pembelajaran di SMK. Pemda hendaknya menyusun perda yang mengatur implementasi pendidikan dan pelatihan vokasi di daerahnya.

Upaya Pemda untuk meningkatkan keterserapan lulusan SMK dengan program revitalisasi. Munculnya Permendagri Nomor 79 tahun 2018 tentang Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD) memberikan peluang besar untuk SMK unggulan menerapkan tata Kelola BLUD dibawah Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi. Adanya kesuksesan implementasi BLUD memberikan peluang untuk SMK mandiri, mengembangkan produktivitasnya, dan mengefisienkan pengeluaran karena dana BOS mulai dikurangi.

 

Standar Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi

PP no 57/2021 menyebutkan bahwa standard SKL digunakan sebagai dasar pengembangan standard yang lain dalam pengelolaan Pendidikan. SKL di jenjang SMK difokuskan pada ketrampilan untuk meningkatkan kompetensinya agar dapat hidup mandiri sesuai kejuruannya. Sedangkan SKL pada jenjang Pendidikan tinggi unntuk menyiapkan Masyarakat yang beraklhak mulia, terampil, mandiri, sereta mengikuti perkembangan bisa zaman.

Penjaminan mutu Pendidikan vokasi melalui proses akreditasi sertifikasi secara berkala oleh BAN PT untuk Pendidikan tinggi,  BAN S/M untuk SMK dan BAN PAUD PNF untuk jenjang PAUD.

 

Sistem pelayanan uji kompetensi

Program kerja Dirjen Vokasi tahun 2021 menyatakan bahwa penguatan kebijkan system sertifikasi kompetensi dilakukan melalui penguatan standard kompetensi sesuai kebutuhan industri, penguatan kelembagaan dan kapasitas pelaksanaan sertifikasi profesi dan peningkatan sinkronisasi sistem sertifikasi yang ada di berbagai sektor.

Lembaga yang berwenang untuk menyelenggarakan sertifikasi adalah LSK, LSP dan satuan Pendidikan berakreditasi A. Selama  ini lulusan vokasi yang bersertifikasi belum tentu diterima bekerja di industri, pihak industri masih melakukan serangakaian tes atupun uji kompetensi lagi. Berdasarkan fakta tersebut diperlukan keterlibatan industri dalam pelaksanaan uji kompetensi oleh LSP  Kondisi saat ini baru diupayakan dengan skema okupasi yaitu sertifikasi yang berdasarkan suatu jabatan kerja pada sistem industri yang sudah ditetapkan secara nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi mengambil langkah dengan meluncurkan 197 Skema Sertifikasi Okupasi bagi Satuan Pendidikan Vokasi (25-08-2023).

Sumber : https://www.vokasi.kemdikbud.go.id/read/b/pastikan-kompetensi-peserta-didik-siap-bersaing-ditjen-pendidikan-vokasi-luncurkan-197-skema-sertifikasi-okupasi diakses pada Selasa, 26 Maret 2024 pukul 08.29

 

Kebekerjaan Lulusan Pendidikan Vokasi

Data keterserapan lulusan Pendidikan voaksi tahun 2016-2019 menunjukkan peningkatan. Hal ini menunjukkan keberhasiln program pemerintah melalui Dirjen Vokasi, dengan demikian pemenuhan kebutuhan tenaga kerja di industri oleh pendidikan vokasi semakin menjanjikan.

 

Pendidikan Vokasi Tahun 2030

Revitalisasi Pendidikan Vokasi bertujuan untuk menciptakan SDM yang kompeten, produktif , dan berdaya saing dalam mendukung visi Indonesia tahun 2045. Pembentukan SDM yang berkualitas sangat mendasar untuk mendorong perkembangan bangsa.

Transformasi di seluruh bidang dari ekonomi, transportasi, layanan public, komunikasi, teknologi informasi hingga kesehatan harus dilakukan secara serentak agar semua lini dapat mengikuti perkembangan zaman. Otomasi akan berperan penting di masa yang akan datang. Era global memunculkan persaingan yang sangat ketat  di berbagai bdang dengan dampak yang harus diantisipasi sedini mungkin.

Revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi mencakup kebutuahn SDM yang kompeten, penyelenggaraan, penyelarasan, penjaminan mutu, koordinasi, peran PEMDA, pemantauan, evaluasi dan pelaporan serta pendanaan.

Strategi kebijakan pendidikan vokasi sampai tahun 2045 meliputi pengembangan sumber daya, pengembangan sistem informasi pasar kerja yang terintegrasi lintas sektor bidang usaha, penguatan dan pengembangan penyelenggaraan pendidikan vokasi yang adaptif dengan perubahan, penjaminan mutu pendidikan dan pelatihan vokasi, meningkatkan kapasitas dan peran pemangku kepentingan pendidikan dan pelatihan vokasi, dan memperoleh pendanaan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan vokasi.

Penyelenggaraan pendidikan vokasi memerlukan transformasi kurikulum, pedagodi, asesmen, dan kelembagaan. Transformasi berdasarkan kebutuhan industri tampak pada tebel berikut .

Tabel. E  elemen Tranformasi kurikulum PVPV

Transformasi pedagogik dengan melibatkan peserta didik dalam praktik pembelajaran dengan pendekatan problem based learning, project based learning dan product based learning.

Transformasi asesmen menggunakan penilaian autentik dimana peserta didik melakukan, menerapkan dan atau melakukan tugas dalam kehidupan nyatanya di sekolah, maupun masyarakat dengan waktu yang fleksibel serta menggunakan berbagai bentuk sesuai kebutuhannya.

Transformasi kelembagaan di jenjang SMK ditandai adanya program studi DII Fast Track. (SMK Diploma II Jalur Cepat) ditunjukkan adanya hubungan yang kuat antara SMK dan IDUKA. Pada jenjang perguruan tinggi ditandai anaya program DIII menjadi program D IV.

 

Menjadikan Vokasi sebagai Pusat Unggulan

Pusat unggulan teknologi perguruan tinggi vokasi sebagai sarana untuk meningkatkan relevansi, kualitas pembelajaran dan kualitas SDM. Program unggulan ini dilakukan di pendidikan tinggi vokasi. Tingkat SMK dengan program SMK Pusat Keunggulan. SMK PK harus unggul di lingkungan sendiri dan menjadi contoh atau model sekolah lain. SMK PK sekarang juga dilaksanakan dengan skema pemadanan baru yang menggandeng mitra industri terkait.

Program riset di perguruan tinggi dengan adanya bantuan penelitian untuk dosen dan mahasiswa. Program start up kampus vokasi bersama dunia kerja dengan adanya produk yang sudah teruji kualitasnya oleh industri sebagai modal dasar program tersebut. Adanya PT, BLU, SMK BLUD/TEFA, dan UPJ sebagai langkah awal start up vokasi bersama dunia kerja.

PKK dan PKV diperuntukkan melatih tenaga kerja non formal dengan berbagai keterampilan yang dibutuhkan industri. Merdeka belajar-kampus Merdeka vokasi dilakukan dengan pertukaran mahasiswa antar perguruan tinggi sehingga mahasiswa mendapatkan pengalaman yang lain dari kampusnya.

Kompetensi transformatif tahun 2030 secara bersama-sama mengatasi kebutuhan yang berkembang bagi generasi  muda menjadi inovatof, bertnggung jawab dan peduli dengan langkah menciptakan nilai baru, meredakan ketegangan  dan dilema serta memiliki tanggung jawab.

Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilandasi dengan literasi yang mencukupi bagi peserta didik ataupun mahasiswa.

Implementasi peta jalan pendidikan vokasi

Tujuan pendidikan membutuhkan beberapa strategi agar tujuan pendidikan tercapai. Strategi yang dilakukan antara lain menentukan kerangka strategi, membuat desain rencana program, monitoring dan evaluasi.

 

 


 

REVITALISASI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN VOKASI

Program revitalisasi pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi memiliki beberap tujuan meningkatkan akses, mutu dan relevansi penyelenggaraan pendidikan dengan dunia kerja, mendorong pemabangunan keunggulan spesifik sesuai karakter lokalnya, melakukan penguatan sinergi antar pemangku kepentingan pendidikan vokasi. membekali SDM dengan kompetensi yang dibutuhkan industri, serta mendorong peran serta industri untuk pengembangan voksai.

Program ini dilaksanakan secara menyeluruh, berkesinambungan , terintegrasi dan terkoordinasi. Prinsip dasar penyelenggaraan pendidikan dan peltihan vokasi adalah berorientasi kebutuhan industri, tanggung jawab pemerintah bersam industri serta masyarakat, berbasis kompetensi, belajar sepanjang hayat dan diselenggarakan secara inklusif.

Pelatihan vokasi meliputi pelatihan kerja dan kursus keterampilan dengan tujuan untuk pembekalan kompetensi kerja, alih kompetensi dan peningkatan kompetensi. Penyelarasan PV-PV dengan DUDIKA dilakukan dalam penyusunan dan penyesuaian kurikulum, penyusunan standard kompetensi kerja, penyelenggaraan akses pemagangan dan PKL, pengakuan sertikat kompetensi, rekruitmen kerja bagi lulusan, pendirian lembaga pendidikan vokasi sesuai kebutuhan industri, penenmpatan praktisi mengajar di sekolah dan kegiatan penelitian dan hiliaris bersama lembaga pendidikan.

 

 

BONUS  DEMOGRAFI DAN VISI INDONESIA EMAS  2045

 

Gambaran kondisi Indonesia pada 100 tahun kemerdekaan dan peta jalan untuk mencapai kondisi ideal pada tahun 2045 tertuang dalam visi Indonesia . Empat pilar pembanguan yang difokuskan adalah pembangunan era penguasaan iptek, pembangunan ekonomi berkelanjuta, pemerataan pembangunan dan pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan.

Keempat pilar diatas dipengaruhi faktor demografi. Tahun 2022 Indonesia berada pada puncak transisi demografi dimana umur produktif mendominasi struktur umur penduduk yang dikenal dengan bonus demografi. Jumlah penduduk usia produktif yang besar dan berkualitas dapat berperan sebagai sumber tenaga kerja dan pelaku ekonomi yang dapat mempercepat pencapaian tujuan-tujuan pembangunan.

Lima  provinsi di Indonesia  berada pada tahap akhir bonus demografi pada periode 2015-2020. Lima provinsi yang berada pada tahap akhir bonus demografi, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara berada pada tingkat ekonomi tinggi menurut klasifikasi World Bank [5]. Sementara itu, dua provinsi lainnya, D.I Yogyakarta berada pada klasifikasi ekonomi rendah-menengah, dan Kalimantan Selatan berada pada klasifikasi ekonomi menengah-tinggi.

Perubahan demografis ini didorong oleh perubahan pendapatan, kesehatan masyarakat, dan pendidikan, mortalitas, fertilitas, dan migrasi antar dan di dalam negara. Perbedaan fase demografi ini menyebabkan capaian pembangunan antar  wilayah tidak sama. Indikator pencapaiannya dilihat dari IPM (Indeks Pembangunan Manusia), yang kita harapkan semakin meingkat.

Untuk mewujudkan Indonesia Emas pada tahun 2045 Indonesia perlu menyiapkan generasi penerus berkualitas dan melakukan pemerataan pembangunan antar wilayah mengingat karakteristik kepulauan yang dimiliki Indonesia. SDM di masing-masing wilayah harus bisa memanfaatkan potensi lokalnya untuk meningkatkan perekonomiannya yang juga meningkatkan kesejahteraannya.

Daerah akan meningkat perekonomiannya jika terdapat SDM yang berkualitas dan mampu mengolah potensi lokalnya. SMK sebagai pencetak SDM yang berkualitas hendaknya terus melakukan perubahan agar dapat mengikuti perkembangan zaman. Peningkatan jumlah SMK diselaraskan dengan potensi lokal dan kebutuhan tenaga kerja yang tersedia atau peluang wirausaha yang ada di daerahnya. Hal ini tak luput dari peran dan dukungan orang tua, masyarakat dan pemerintah daerah terhadap siswa dan SMK nya. Kondisi ini tentu akan mengurangi jumlah pengangguran lulusan SMK.

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Model Pembelajaran Pendidikan Vokasi Masa Depan